Geri
Berdarah – darah
Kenapa judulnya harus sehoror itu? Sebenernya
cerita ini ga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan apapun. Apalagi proses
melahirkan beranak – pinak. Geri adalah salah satu temen kuliahku di Jakarta.
Seorang cowok kelahiran Maluku yang besar di Magelang. Yang unik dari dia
adalah, hobinya yang sangat suka menempatkan topi di kepalanya setiap kali ada
kesempatan, alias pake topi dimanapun dia berada. Dia juga sangat suka membeli
buku kemudian menumpuknya di meja kamarnya di asrama. Dan pertama aku kenal
dia, aku kira dia adalah rival bebuyutannya Tom dalam serial Tom and Jerry.
Ternyata justru dia sangat suka bercengkerama dengan kucing.
(spoiled Geri,, dia pake topi kan? haha...)
Baiklah, mari kita awali pendarahan ini.
Sebenernya karena waktu kecil aktivitasku adalah sakit-sakitan dan sampe bosen
dengan jarum suntik, jadilah pas udah gede aku sangat takut liat jarum suntik
atau apapun yang sejenis dengan itu, seperti ketakutanku melihat kucing yang di
mataku terlihat seperti macan. Tepat di usia 26, aku baru tahu kalo golongan
darahku adalah “A”, itu gara – gara perpanjangan SIM yang mengharuskan petugasnya mengambil sample darah. Seandainya bisa
diganti, tentu aku lebih siap dicabut rambut uban sebanyak – banyaknya dari pada
harus diambil sample darah.
Bergerak dari pendarahan satu, ternyata berlanjut
ke pendarahan berikutnya. Itu adalah kisah gengsi dan rasa penasaran yang amat
kuat. Saat di kampus UNJ ada kegiatan donor darah, Oma dengan serta merta
seperti prajurit perang yang menempatkan diri di Garda depan. Dengan kelihaiannya dalam bersilat lidah, dia bilang “Hyung, ayo donk ikut donor! Kita
kan keluarga Cullent masa ga ikut sih!! Aku adalah Bella dan kamu adalah Edward
Cullent”. Ditambah lagi Geri yang ikut nimbrung “Ayo Ji, kita ikutan Donor.
Donor itu enak lho, selain bermanfaat untuk orang lain juga bikin badan kita
jadi tambah sehat. Bla. Bla. Bla.” Geri udah mulai ceramah mirip kontestan Da’i
di TV. Bingungnya, apakah aku harus bilang kalo aku takut??? Gengsi lah. Akhirnya
dengan lesunya aku jawab “Ayo..., tapi aku ke toilet dulu ya..” (berharap
setelah dari toilet pikiran Geri berubah mengurungkan niatnya ikut – ikut
donor).
Sampai di tempat acara, aku terus berjalan di belakang
Geri sambil berdo’a ada kesempatan yang wajar untuk melarikan diri, setelah
daftar dan duduk di ruang tunggu, Oma sudah di sana sama si Uwi - Uwi. Kayaknya
dia memang punya anstusiasme yang tinggi dalam segala bidang termasuk donor-
mendonor. Dan tibalah saat yang mendebarkan tiba, dengan jarum yang berukuran
raksasa, tanpa belas kasihan petugas itu menancapkannya ke lenganku. Kalo boleh
milih rasanya aku mendingan pingsan saja. Setetes- dua tetes... tambah dag dig
dug. Ternyata ga terasa satu kantong darah sudah terisi penuh. Yes..... sukses
satu kantong! Ternyata ga seseram yang aku kira. Sejak saat itulah aku bertekad
jadi pendonor darah sejati di manapun berada.
(Di lengan kiri, hasil menjadi member keluarga
Cullent)
Kisah darah selanjutnya adalah saat aku sudah
lulus dari belajarku di Jakarta dan kemudian aku bekerja dan kos di Purwokerto.
Entah lupa mencatat takdir atau
bagaimana, tiba – tiba Malaikat mempertemukan lagi aku dengan Geri. Belakangan
aku tahu, dia lagi numpang di kos adiknya yang kuliah di sana. Jadilah aku
tularkan dia dengan virus Jogging. Saat sedang tiduran karena kecape’an setelah
jogging pagi itulah, beberapa jam kemudian dengan kekuatan penuh Geri datang
lagi dan mendobrak pintu kamar kosku. “Ayo Ji, ada donor darah besar – besaran
di Gor. Pokoknya rame banget. Katanya target 3000 pendonor”. WTF, donor kok
ditarget – target. Dan benar saja, setelah kami sampai sana, kami ada di urutan
dua ribu sekian. Fantastis!. Dari mulai berebut formulir, antrian panjang desak
– desakan.. aku masih mikir ada apa dibalik fenomena membludaknya peserta acara
donor ini.
Saat kami sedang duduk antri mepet – mepet itulah,
disebelah kami ada mahluk jelmaan K-Pop lengkap dengan aksesoris yang menempel
layaknya mau konser. Diinterogasi, ditanya – tanya asal kami dan sebagainya.
Apakah mukaku dan Geri seperti Alien sehingga tidak layak berada di Bumi?
Dari situ aku dan Geri sadar kalau kami terlalu tua untuk memahami style pemuda
sekarang.
(pict alay? ga pake spoiled pict,
takut dituntut. Wkwkk)
Giliran kami dipanggil, nomor berurutan Geri, aku
dan si K-Pop. Karena berdesak- desakan dan agak licin itulah, ada adegan
fenomenal yang gak perlu terjadi... KEPLESET. Ya, aku kepleset. Betapa malunya,
rasanya aku ingin menelan apapun yang ada di depanku untuk menghilangkan rasa
malu. Wegh... PD dan ketampananku terasa turun 0,1%. “Lo ga pa- pa ji? Ati –
ati lo..”. Dengan muka malu aku blg “ ga pa – pa Ger... santai aja. Lanjut”
(padahal jalan agak miring2, pantat sakit, sikut pegel. wkwkk).
(Ini
dia,, sendal perpaduan kuning – hijau yang bikin aku malu seantero Gor)
Karena adegan kepleset itu, aku jadi kaya orang
bingung, grogi dan bego milih ranjang buat donor. Banyak banget ada ratusan
petugas& ranjang. Maklum, 3000 pendonor. He... Saat darahku sedang dirampok
oleh petugas itulah, aku melihat ada cewek cantik tinggi semampai bak model...
mirip – mirip sama Taylor Swift memapah cowok sangar layaknya Barry Prima aktor
silat tahun 80-an.
(ini dia sang legenda bintang laga Indonesia,,
bang Barry Prima. Nyomot google :D).
Belakangan aku tahu kata Gery kalo cowok sangar
yang dipapah itu adalah pacarnya karena pingsan sewaktu diambil darahnya.
Wkwkkkk. Ternyata ada yang lebih mengharukan dari pada tragedi kepleset.
Haha....
Setelah keluar dari Gor, aku shock. Ternyata banyak
banget barang – barang yang dikasih dari panitia... roti, wafer, kaos, gelas,
toples, tas, dll.. semua persembahan dari Tupp*rware. Bener – bener puas. Puas
jatuh! wkkkk

