Thursday, 14 April 2016

Catatan 10: Test Kejar Kereta

Seri 10:
Test Kejar Kereta
Lama banget nih ga ngeblog..
Singkat cerita nih ya... abis lulus pendidikan di kota metropolis itu, aku pisah sama si oma Neni, Geri berdarah-darah, keluarga Einstein& semua-muanya.. hanya sama opa Diro yang masih sering ketemu karena rumah ga jauh-jauh amat.
Abis pendidikan selesai, aku ibarat kepompong yang ditaruh di atas daun pisang yang diolesi minyak, alias menggelinjang-gelinjang ga jelas, licin hampir jatuh. Sempet kerja serabutan mengais-ngais rizki demi sepiring spaghetti. Nah, ajaib bin super ajaib setelah menunggu dengan penuh khikmat, akhirnya aku dan temen-temen mendapat kesempatan kembali bertugas di daerah terpencil dengan status guru tetap, asal... lulus tes’nya J J J. Nah, mendengar kabar gembira itu tentu aku berusaha dengan sangat keras, sekeras hati anak manusia yang dikhianati pacarnya. Aku mulai tukar menukar file persiapan tes CPNS dengan oma Neni& Eko pinky. Bahkan aku nyempetin ngerampok bukunya opa Diro buat difotokopi buram, perkecil, bolak-balik.
Dan test-pun sudah ditetapkan. Setelah mengalami pemindahan tempat tes beribu-ribu kali, akhirnya ditetapkan aku& opa Diro tes di Bandung- UPI. Fighting!
“Opa, ntar kita di Bandung nginep di mana nih?”, tanyaku sembari menikmati perjalanan kereta Serayu Pagi.
“Di masjid aja. Kalo ga gelaran tikar di pos satpam!”, jawabnya dengan begitu sengit.
Setelah merayu kanan-kiri atas-bawah, akhirnya kami mendapat tumpangan di asrama UPI. &ternyata di sana sudah banyak banget yang ngungging tunggang langgang. Ada Aji Sebastian yang membuncit dan si Slamet. (baca: catatan seri 2)

“Mas munji, mari atuh kita teh makan surabi Bandung. Mumpung di sini. Biar Dewi yang traktir...” kata Dewi, si mojang Bandung yang dulu pernah mengabdi bersama di Kupang. Kemudan dia jadi ibu asrama putri di UPI. 
“Boleh teh, ajak opa Diro ya...” jawabku yang tidak melupakan teman bagaimanapun bentuk muka si teman itu. 
Tapi entah bagaimana ceritanya, tapi yang jelas malam itu kami turun dari angkot pada tempat yang tidak signifikan. Jadinya kami agak jalan dikit. Mungkin jalan sampai 500K. :D
Akhirnya sampailah kami di tempat surabi yang kata teh Dewi paling enak itu. Aku iya-iya aja deh, dari pada suruh bayar sendiri kalo ga meng-iya-kan kata-katanya. Haha....
(bareng teh Dewi dan opa Diro)
Sampe juga kembali di asrama, aku lihat Aji bastian, Slamet &temen-temen yang lain sudah sangat sibuk dengan lima tumpuk bukunya masing-masing. My God..., kayaknya aku ga bakal konsen belajar. Lagian kaki juga sudah pegel gini. aku tengok kiri, malah opa Diro sudah molor. Wkwkkk
“Ayo munji, kita harus belajar mati-matian malam ini”, kata Aji Bastian
“Iya, siap..!!!” Jawabku.
“Oke, soal pertama... siapa yang mengetik naskah proklamasi?” tanyaku.
“Sayuti Melik”, jawab Aji.
“Iya betul. Lanjut. Siapa nama pemeran utama dalam serial City Hunter?” tanyaku
Aji jawab, “Lee min ho”
“Pinter, siapa pemain terbaik peraih D’or?” tanyaku.
“Messi..” jawab Aji.
“Oke, siapa anggota SNSD yang paling cantik?” tanyaku lagi.
“Stop! Stop! Stop! Kalian apa-apaan? Pertanyaan macam apa itu???. Bla.bla.bla” tiba-tiba opa Diro bangun& ngomel-ngomel membabi buta.
Tapi aku dan Aji tidak peduli dan kami langsung tinggal tidur dengan pulasnya. Zzzzzzz.

 “Mas, ayo siap-siap...!” teh Dewi sudah berdiri dengan tegar& penuh dedikasi tinggi di depan pitu kamar kami.
“Sebentar teh... aduh gimana nih, semalem aku ga belajar” kataku.
“Sudahlah aku juga ga. Haha..” Jawab teh Dewi.

Kami serombongan menuju tempat tes. Dan setelah 2 kali ke toilet karena grogi, akhirnya siap masuk ruang test juga& aku kebagian tempat duduk deret terakhir.
“Aduh, gimana nih... kenapa soal hitungannya harus angka semua. Aku kan ga suka angka, ga suka ngitung, kecuali ngitung uang...”, kataku dalam hati.
Aku tengok kanan dan serta merta aku ingat kalau Aji Bastian adalah guru Matematika. Tapi aku liat mukanya juga sudah seruwet rumus Pitagoras, aku ga jadi nanya. Aku tengok sebelah kiri yang aku ga tau itu siapa dan dari mana asalnya... tapi ya Tuhan... dia menghadapi soal-soal di komputer seolah – olah sedang menghadapi harta karun yang tidak boleh dicolak-colek. Hmmm Gimana nih, waktunya tinggal beberapa menit lagi& soal matematika ini benar-benar menyiksaku.
Dengan pasrahnya aku berucap, “Bismillahirahmanirrahim..”. Aku baca basmallah dan pejam mata. Kemudian aku klik-klik aja mousenya, ga tau jawab apaan.  Tepat selesai tanpa ada waktu untuk cek ulang. Wkkkk. Komputer otomatis re-set& keluarlah nilai-nilai itu..
“Aduh, apaan nih... kok nilaiku begini”, kataku tanpa sadar.
“Ini lolos passing grade mas, berdo’a aja semoga lulus”, tiba-tiba ada seorang cewek cantik yang datang ke sampingku.
“Iya, aamiin”, kataku.
 Akh, sudahlah, lupakan! Aku takut bayangin lulus atau ga. wkkkk  

Ga sempet jalan-jalan. Aku, opa Diro dan Slamet (kali ini Slamet ikut kami :D) mutusin buat langsung pulang dan main kejar-kejaran waktu.
50 menit lagi kereta berangkat. Kami yakin masih ada waktu. “Ke stasiun naik angkot yang mana mas?”, tanya Slamet.
“Ga tau nih, aku juga lupa. Kayaknya ini nih yang warna biru. Naik cepetan!”, jawabku sambil menyeret opa Diro dan Slamet.
Ternyata angkotnya berjalan lebih lambat dari langkah jarum jam yang kehabisan baterai. Benar-benar sangat lambat. Entah karena ada 3 ibu-ibu besar di depan kami jadi angkotnya berat... atau memang ini angkot berkekuatan gerobak. Belum lagi mampir di pom bensin, belum lagi kami terlalu patuh rute hingga tidak turun di perempatan yang lebih cepet (baca: bingung jalan).

Akhirnya tibalah kami di tempat yang sangat bahagia, yaitu stasiun Kereta Api. “Opa, itu kayaknya keretanya tuh.. cepetan!!”, kataku.
Ya Tuhan, kami bertiga lari tanpa pedulikan sekitar. Si Slamet dengan barang bawaannya yang super duper besar, opa Diro dengan sepatu pantovel, aku dengan jaket bulu super tebal warna biru cerah milik emak’ku (berasa aktor korea lagi akting di musim salju). Kami benar- benar seperti pelari maraton profesional... tidak peduli apapun. Mungkin kalau di FTV sudah jadi judul ~Mas-mas Mengejar Kereta~
Akhirnya kami sampai stasiun& langsung menuju loket.
“Mbak, tiket ke Kroya masih ada?”, tanyaku sambil terengah-engah.
“Masih mas, masih 5 kursi. Berangkat jam 11”, jawabnya dengan ramah.
Sesaat mbak-mbak itu sadar& kaget sambil liat jam di tangannya. Terus dia bilang, “Lho mas ini kan jam 11. Mau kereta yang di depan itu?”
“Iya mbak, makanya cepetan...”, Kataku.
Dan aku lihat petugas tiket yang satu seperti memberi tanda, agar menunggu penumpang dadakan ini.
“Udah mas ga usah tulis di kartu pemesanan, langsung saja. Berapa orang?”tanyanya.
“Tiga mbak...”, kataku. Aku sibuk ribut KTP opa yang entah di mana. Tapi mbaknya dengan cekatan nyuruh pake KTPku saja.
Tiket di tangan, kami langsung lari ke pintu check-in tiket.
“Cepet pak, kereta sudah mau berangkat!”, tiba – tiba opa Diro seperti membentak petugas.
My God. opa Diro... udah untung kereta mau nunggu, masih bentak petugas pula. Wkwkkk.
Yes!!! Akhirnya kami sudah berada di kereta. Duduk dengan manisnya. Go Home!!! :D :D
Tepat ba’da magrib aku sampai di stasiun Kroya diiringi hujan yang sangat deras. Di pintu keluar, bapakku sudah menunggu lengkap dengan sepeda motor dan mantel di tangannya. Kami bergegas menuju rumah dalam dinginnya perjalanan malam yang diguyur hujan.
#Dan kira2 bagaimana hasil tes-nya? Tunggu next series. :D