Wednesday, 20 May 2015

Catatan 9: Geri Berdarah – darah

 Geri Berdarah – darah

Kenapa judulnya harus sehoror itu? Sebenernya cerita ini ga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan apapun. Apalagi proses melahirkan beranak – pinak. Geri adalah salah satu temen kuliahku di Jakarta. Seorang cowok kelahiran Maluku yang besar di Magelang. Yang unik dari dia adalah, hobinya yang sangat suka menempatkan topi di kepalanya setiap kali ada kesempatan, alias pake topi dimanapun dia berada. Dia juga sangat suka membeli buku kemudian menumpuknya di meja kamarnya di asrama. Dan pertama aku kenal dia, aku kira dia adalah rival bebuyutannya Tom dalam serial Tom and Jerry. Ternyata justru dia sangat suka bercengkerama dengan kucing. 

(spoiled Geri,, dia pake topi kan? haha...)

Baiklah, mari kita awali pendarahan ini. Sebenernya karena waktu kecil aktivitasku adalah sakit-sakitan dan sampe bosen dengan jarum suntik, jadilah pas udah gede aku sangat takut liat jarum suntik atau apapun yang sejenis dengan itu, seperti ketakutanku melihat kucing yang di mataku terlihat seperti macan. Tepat di usia 26, aku baru tahu kalo golongan darahku adalah “A”, itu gara – gara perpanjangan SIM yang mengharuskan petugasnya mengambil sample darah. Seandainya bisa diganti, tentu aku lebih siap dicabut rambut uban sebanyak – banyaknya dari pada harus diambil sample darah. 

Bergerak dari pendarahan satu, ternyata berlanjut ke pendarahan berikutnya. Itu adalah kisah gengsi dan rasa penasaran yang amat kuat. Saat di kampus UNJ ada kegiatan donor darah, Oma dengan serta merta seperti prajurit perang yang menempatkan diri di Garda depan. Dengan kelihaiannya dalam bersilat lidah, dia bilang “Hyung, ayo donk ikut donor! Kita kan keluarga Cullent masa ga ikut sih!! Aku adalah Bella dan kamu adalah Edward Cullent”. Ditambah lagi Geri yang ikut nimbrung “Ayo Ji, kita ikutan Donor. Donor itu enak lho, selain bermanfaat untuk orang lain juga bikin badan kita jadi tambah sehat. Bla. Bla. Bla.” Geri udah mulai ceramah mirip kontestan Da’i di TV. Bingungnya, apakah aku harus bilang kalo aku takut??? Gengsi lah. Akhirnya dengan lesunya aku jawab “Ayo..., tapi aku ke toilet dulu ya..” (berharap setelah dari toilet pikiran Geri berubah mengurungkan niatnya ikut – ikut donor).

Sampai di tempat acara, aku terus berjalan di belakang Geri sambil berdo’a ada kesempatan yang wajar untuk melarikan diri, setelah daftar dan duduk di ruang tunggu, Oma sudah di sana sama si Uwi - Uwi. Kayaknya dia memang punya anstusiasme yang tinggi dalam segala bidang termasuk donor- mendonor. Dan tibalah saat yang mendebarkan tiba, dengan jarum yang berukuran raksasa, tanpa belas kasihan petugas itu menancapkannya ke lenganku. Kalo boleh milih rasanya aku mendingan pingsan saja. Setetes- dua tetes... tambah dag dig dug. Ternyata ga terasa satu kantong darah sudah terisi penuh. Yes..... sukses satu kantong! Ternyata ga seseram yang aku kira. Sejak saat itulah aku bertekad jadi pendonor darah sejati di manapun berada.

(Di lengan kiri, hasil menjadi member keluarga Cullent)

Kisah darah selanjutnya adalah saat aku sudah lulus dari belajarku di Jakarta dan kemudian aku bekerja dan kos di Purwokerto. Entah lupa mencatat  takdir atau bagaimana, tiba – tiba Malaikat mempertemukan lagi aku dengan Geri. Belakangan aku tahu, dia lagi numpang di kos adiknya yang kuliah di sana. Jadilah aku tularkan dia dengan virus Jogging. Saat sedang tiduran karena kecape’an setelah jogging pagi itulah, beberapa jam kemudian dengan kekuatan penuh Geri datang lagi dan mendobrak pintu kamar kosku. “Ayo Ji, ada donor darah besar – besaran di Gor. Pokoknya rame banget. Katanya target 3000 pendonor”. WTF, donor kok ditarget – target. Dan benar saja, setelah kami sampai sana, kami ada di urutan dua ribu sekian. Fantastis!. Dari mulai berebut formulir, antrian panjang desak – desakan.. aku masih mikir ada apa dibalik fenomena membludaknya peserta acara donor ini.

Saat kami sedang duduk antri mepet – mepet itulah, disebelah kami ada mahluk jelmaan K-Pop lengkap dengan aksesoris yang menempel layaknya mau konser. Diinterogasi, ditanya – tanya asal kami dan sebagainya. Apakah mukaku dan Geri seperti Alien sehingga tidak layak berada di Bumi? Dari situ aku dan Geri sadar kalau kami terlalu tua untuk memahami style pemuda sekarang.

(pict alay? ga pake spoiled pict, takut dituntut. Wkwkk)

Giliran kami dipanggil, nomor berurutan Geri, aku dan si K-Pop. Karena berdesak- desakan dan agak licin itulah, ada adegan fenomenal yang gak perlu terjadi... KEPLESET. Ya, aku kepleset. Betapa malunya, rasanya aku ingin menelan apapun yang ada di depanku untuk menghilangkan rasa malu. Wegh... PD dan ketampananku terasa turun 0,1%. “Lo ga pa- pa ji? Ati – ati lo..”. Dengan muka malu aku blg “ ga pa – pa Ger... santai aja. Lanjut” (padahal jalan agak miring2, pantat sakit, sikut pegel. wkwkk).

(Ini dia,, sendal perpaduan kuning – hijau yang bikin aku malu seantero Gor)

Karena adegan kepleset itu, aku jadi kaya orang bingung, grogi dan bego milih ranjang buat donor. Banyak banget ada ratusan petugas& ranjang. Maklum, 3000 pendonor. He... Saat darahku sedang dirampok oleh petugas itulah, aku melihat ada cewek cantik tinggi semampai bak model... mirip – mirip sama Taylor Swift memapah cowok sangar layaknya Barry Prima aktor silat tahun 80-an.
(ini dia sang legenda bintang laga Indonesia,, bang Barry Prima. Nyomot google :D).

Belakangan aku tahu kata Gery kalo cowok sangar yang dipapah itu adalah pacarnya karena pingsan sewaktu diambil darahnya. Wkwkkkk. Ternyata ada yang lebih mengharukan dari pada tragedi kepleset. Haha....

Setelah keluar dari Gor, aku shock. Ternyata banyak banget barang – barang yang dikasih dari panitia... roti, wafer, kaos, gelas, toples, tas, dll.. semua persembahan dari Tupp*rware. Bener – bener puas. Puas jatuh! wkkkk