Selain aku dan Oma,
sebenarnya ada lagi satu sahabat yang sangat setia, namanya Pepi. Nah,
kemanapun kami pergi, Pepi selalu kami ajak. Jangankan jalan – jalan ke monas, joggingpun kami ajak. Yah walaupun kami
terlantarkan dipinggir lapangan selama kami jogging.
Selain kami
anggap sebagai teman, Pepi kadang kami anggap sebagai anak kami (wkwkkkk.
Heboh!). si Pepi memang berwarna grey
dan sudah sedikit kusam. Tapi kami sangat menyayanginya layaknya pahlawan,
kenapa? Karena dia selalu meredakan dahaga kami.. iya, si Pepi, botol minum
yang sangat setia.
Tapi suatu pagi
buta, aku mendapatkan berita duka. Kejadiannya adalah sebagai berikut, hmm..… Pagi
itu seperti biasa Pepi menemani Oma jogging
(aku gak ikutan, ngantuk. He…), katanya tiba – tiba kecelakaan terjadi. Pepi
jatuh dan pecah. Aku mungkin orang pertama yang dihubungi oleh Oma via SMS
tentang berita kematian Pepi. Kami berduka (lebay gak sih?). Sebagai bukti
penghormatan terakhirku pada Pepi, jadilah aku heboh memberi tahu orang – orang
disekitarku tentang berita kematian Pepi. Orang yang pertama aku kasih tahu
adalah teman sekamarku, Anang. “Pepi siapa mas Munji?, pepi yang mana?”, dia
kaget bukan kepalang. Trus aku jawab dengan santai, “itu lho, botol minum punya
neni”. Ternyata responnya di luar dugaan, dia menjawab dengan penuh khidmat dan
keihklasan “Huh! SIALAN….!!!, kirain Pepi siapa!”.
Ya begitulah, Ada
yang kaget, ada yang heran dan ada yang merasa ketipu karena ternyata si Pepi
hanya sebuah botol air minum. Tapi apapun responnya yang penting aku sudah
menyampaikan berita lelayu itu dengan baik dan penuh kasih.
Tapi sialnya
adalah si Oma ternyata biasa saja, belum sempat aku menanyakan perasaaannya
ditinggal Pepi, kurang dari 1x24 jam dari kematian Pepi, dia datang dengan
tertawa – tawa heboh menunjukkan pengganti Pepi. Sambil teriak – teriak dengan
nada tidak beraturan, dia bilang “Hyung…….., coba lihat siapa yang aku bawa.
Ini aku bawa pengganti Pepi. Ini mahal lho Hyung, 49.000. kita kasih nama siapa
ya Hyung…?”
Dengan kesalnya
aku jawab “Panggil aja Pispot!!”
“Oke deh, Pispot
juga bagus”, katanya.
“Hah???@#$$#**~~”
Dasar Oma.
Ini dia si
Pispot pengganti Pepi, lagi di pegang Oma. Sebenarnya si Pepi hampir mirip sih
sama Pispot. Kalo Pepi warnanya grey kalau
Pispot warnanya bening putih campur pink dikit.
Namun satu hal
yang bikin orang illfeel dengernya kalau aku lagi nanyain Pispot. “Oma,
Pispotnya dong, haus nih”.
Mungkin mereka
mikir, “gila nih orang, minumnya urine,
kemana- mana bawa Pispot”. Ha……