Seri 10:
Test Kejar Kereta
Lama
banget nih ga ngeblog..
Singkat
cerita nih ya... abis lulus pendidikan di kota metropolis itu, aku pisah sama
si oma Neni, Geri berdarah-darah, keluarga Einstein& semua-muanya.. hanya
sama opa Diro yang masih sering ketemu karena rumah ga jauh-jauh amat.
Abis
pendidikan selesai, aku ibarat kepompong yang ditaruh di atas daun pisang yang
diolesi minyak, alias menggelinjang-gelinjang ga jelas, licin hampir jatuh.
Sempet kerja serabutan mengais-ngais rizki demi sepiring spaghetti. Nah, ajaib
bin super ajaib setelah menunggu dengan penuh khikmat, akhirnya aku dan
temen-temen mendapat kesempatan kembali bertugas di daerah terpencil dengan
status guru tetap, asal... lulus tes’nya J J J. Nah, mendengar kabar gembira itu tentu aku berusaha dengan sangat
keras, sekeras hati anak manusia yang dikhianati pacarnya. Aku mulai tukar
menukar file persiapan tes CPNS dengan oma Neni& Eko pinky. Bahkan aku
nyempetin ngerampok bukunya opa Diro buat difotokopi buram, perkecil,
bolak-balik.
Dan
test-pun sudah ditetapkan. Setelah mengalami pemindahan tempat tes beribu-ribu
kali, akhirnya ditetapkan aku& opa Diro tes di Bandung- UPI. Fighting!
“Opa,
ntar kita di Bandung nginep di mana nih?”, tanyaku sembari menikmati perjalanan
kereta Serayu Pagi.
“Di
masjid aja. Kalo ga gelaran tikar di pos satpam!”, jawabnya dengan begitu
sengit.
Setelah
merayu kanan-kiri atas-bawah, akhirnya kami mendapat tumpangan di asrama UPI.
&ternyata di sana sudah banyak banget yang ngungging tunggang langgang. Ada
Aji Sebastian yang membuncit dan si Slamet. (baca: catatan seri 2)
“Mas
munji, mari atuh kita teh makan surabi Bandung. Mumpung di sini. Biar Dewi yang
traktir...” kata Dewi, si mojang Bandung yang dulu pernah mengabdi bersama di
Kupang. Kemudan dia jadi ibu asrama putri di UPI.
“Boleh
teh, ajak opa Diro ya...” jawabku yang tidak melupakan teman bagaimanapun
bentuk muka si teman itu.
Tapi
entah bagaimana ceritanya, tapi yang jelas malam itu kami turun dari angkot
pada tempat yang tidak signifikan. Jadinya kami agak jalan dikit. Mungkin jalan
sampai 500K. :D
Akhirnya
sampailah kami di tempat surabi yang kata teh Dewi paling enak itu. Aku iya-iya
aja deh, dari pada suruh bayar sendiri kalo ga meng-iya-kan kata-katanya.
Haha....
(bareng teh Dewi dan opa Diro)
Sampe
juga kembali di asrama, aku lihat Aji bastian, Slamet &temen-temen yang
lain sudah sangat sibuk dengan lima tumpuk bukunya masing-masing. My God...,
kayaknya aku ga bakal konsen belajar. Lagian kaki juga sudah pegel gini. aku
tengok kiri, malah opa Diro sudah molor. Wkwkkk
“Ayo
munji, kita harus belajar mati-matian malam ini”, kata Aji Bastian
“Iya,
siap..!!!” Jawabku.
“Oke,
soal pertama... siapa yang mengetik naskah proklamasi?” tanyaku.
“Sayuti
Melik”, jawab Aji.
“Iya
betul. Lanjut. Siapa nama pemeran utama dalam serial City Hunter?” tanyaku
Aji
jawab, “Lee min ho”
“Pinter,
siapa pemain terbaik peraih D’or?” tanyaku.
“Messi..”
jawab Aji.
“Oke,
siapa anggota SNSD yang paling cantik?” tanyaku lagi.
“Stop!
Stop! Stop! Kalian apa-apaan? Pertanyaan macam apa itu???. Bla.bla.bla”
tiba-tiba opa Diro bangun& ngomel-ngomel membabi buta.
Tapi
aku dan Aji tidak peduli dan kami langsung tinggal tidur dengan pulasnya.
Zzzzzzz.
“Mas, ayo siap-siap...!” teh Dewi sudah
berdiri dengan tegar& penuh dedikasi tinggi di depan pitu kamar kami.
“Sebentar
teh... aduh gimana nih, semalem aku ga belajar” kataku.
“Sudahlah
aku juga ga. Haha..” Jawab teh Dewi.
Kami
serombongan menuju tempat tes. Dan setelah 2 kali ke toilet karena grogi,
akhirnya siap masuk ruang test juga& aku kebagian tempat duduk deret terakhir.
“Aduh,
gimana nih... kenapa soal hitungannya harus angka semua. Aku kan ga suka angka,
ga suka ngitung, kecuali ngitung uang...”, kataku dalam hati.
Aku
tengok kanan dan serta merta aku ingat kalau Aji Bastian adalah guru Matematika.
Tapi aku liat mukanya juga sudah seruwet rumus Pitagoras, aku ga jadi nanya.
Aku tengok sebelah kiri yang aku ga tau itu siapa dan dari mana asalnya... tapi ya
Tuhan... dia menghadapi soal-soal di komputer seolah – olah sedang menghadapi
harta karun yang tidak boleh dicolak-colek. Hmmm Gimana nih, waktunya tinggal
beberapa menit lagi& soal matematika ini benar-benar menyiksaku.
Dengan
pasrahnya aku berucap, “Bismillahirahmanirrahim..”. Aku baca basmallah dan
pejam mata. Kemudian aku klik-klik aja mousenya, ga tau jawab apaan. Tepat selesai tanpa ada waktu untuk cek
ulang. Wkkkk. Komputer otomatis re-set& keluarlah nilai-nilai itu..
“Aduh,
apaan nih... kok nilaiku begini”, kataku tanpa sadar.
“Ini
lolos passing grade mas, berdo’a aja semoga lulus”, tiba-tiba ada seorang cewek
cantik yang datang ke sampingku.
“Iya,
aamiin”, kataku.
Akh, sudahlah, lupakan! Aku takut bayangin
lulus atau ga. wkkkk
Ga
sempet jalan-jalan. Aku, opa Diro dan Slamet (kali ini Slamet ikut kami :D)
mutusin buat langsung pulang dan main kejar-kejaran waktu.
50
menit lagi kereta berangkat. Kami yakin masih ada waktu. “Ke stasiun naik
angkot yang mana mas?”, tanya Slamet.
“Ga
tau nih, aku juga lupa. Kayaknya ini nih yang warna biru. Naik cepetan!”,
jawabku sambil menyeret opa Diro dan Slamet.
Ternyata
angkotnya berjalan lebih lambat dari langkah jarum jam yang kehabisan baterai. Benar-benar
sangat lambat. Entah karena ada 3 ibu-ibu besar di depan kami jadi angkotnya
berat... atau memang ini angkot berkekuatan gerobak. Belum lagi mampir di pom
bensin, belum lagi kami terlalu patuh rute hingga tidak turun di perempatan
yang lebih cepet (baca: bingung jalan).
Akhirnya
tibalah kami di tempat yang sangat bahagia, yaitu stasiun Kereta Api. “Opa, itu
kayaknya keretanya tuh.. cepetan!!”, kataku.
Ya
Tuhan, kami bertiga lari tanpa pedulikan sekitar. Si Slamet dengan barang
bawaannya yang super duper besar, opa Diro dengan sepatu pantovel, aku dengan
jaket bulu super tebal warna biru cerah milik emak’ku (berasa aktor korea lagi akting
di musim salju). Kami benar- benar seperti pelari maraton profesional... tidak
peduli apapun. Mungkin kalau di FTV sudah jadi judul ~Mas-mas Mengejar Kereta~
Akhirnya
kami sampai stasiun& langsung menuju loket.
“Mbak,
tiket ke Kroya masih ada?”, tanyaku sambil terengah-engah.
“Masih
mas, masih 5 kursi. Berangkat jam 11”, jawabnya dengan ramah.
Sesaat
mbak-mbak itu sadar& kaget sambil liat jam di tangannya. Terus dia bilang,
“Lho mas ini kan jam 11. Mau kereta yang di depan itu?”
“Iya
mbak, makanya cepetan...”, Kataku.
Dan
aku lihat petugas tiket yang satu seperti memberi tanda, agar menunggu
penumpang dadakan ini.
“Udah
mas ga usah tulis di kartu pemesanan, langsung saja. Berapa orang?”tanyanya.
“Tiga
mbak...”, kataku. Aku sibuk ribut KTP opa yang entah di mana. Tapi mbaknya
dengan cekatan nyuruh pake KTPku saja.
Tiket
di tangan, kami langsung lari ke pintu check-in tiket.
“Cepet
pak, kereta sudah mau berangkat!”, tiba – tiba opa Diro seperti membentak petugas.
My
God. opa Diro... udah untung kereta mau nunggu, masih bentak petugas pula.
Wkwkkk.
Yes!!!
Akhirnya kami sudah berada di kereta. Duduk dengan manisnya. Go Home!!! :D :D
Tepat
ba’da magrib aku sampai di stasiun Kroya diiringi hujan yang sangat deras. Di
pintu keluar, bapakku sudah menunggu lengkap dengan sepeda motor dan mantel di
tangannya. Kami bergegas menuju rumah dalam dinginnya perjalanan malam yang
diguyur hujan.
#Dan
kira2 bagaimana hasil tes-nya? Tunggu next series. :D



















