Thursday, 14 April 2016

Catatan 10: Test Kejar Kereta

Seri 10:
Test Kejar Kereta
Lama banget nih ga ngeblog..
Singkat cerita nih ya... abis lulus pendidikan di kota metropolis itu, aku pisah sama si oma Neni, Geri berdarah-darah, keluarga Einstein& semua-muanya.. hanya sama opa Diro yang masih sering ketemu karena rumah ga jauh-jauh amat.
Abis pendidikan selesai, aku ibarat kepompong yang ditaruh di atas daun pisang yang diolesi minyak, alias menggelinjang-gelinjang ga jelas, licin hampir jatuh. Sempet kerja serabutan mengais-ngais rizki demi sepiring spaghetti. Nah, ajaib bin super ajaib setelah menunggu dengan penuh khikmat, akhirnya aku dan temen-temen mendapat kesempatan kembali bertugas di daerah terpencil dengan status guru tetap, asal... lulus tes’nya J J J. Nah, mendengar kabar gembira itu tentu aku berusaha dengan sangat keras, sekeras hati anak manusia yang dikhianati pacarnya. Aku mulai tukar menukar file persiapan tes CPNS dengan oma Neni& Eko pinky. Bahkan aku nyempetin ngerampok bukunya opa Diro buat difotokopi buram, perkecil, bolak-balik.
Dan test-pun sudah ditetapkan. Setelah mengalami pemindahan tempat tes beribu-ribu kali, akhirnya ditetapkan aku& opa Diro tes di Bandung- UPI. Fighting!
“Opa, ntar kita di Bandung nginep di mana nih?”, tanyaku sembari menikmati perjalanan kereta Serayu Pagi.
“Di masjid aja. Kalo ga gelaran tikar di pos satpam!”, jawabnya dengan begitu sengit.
Setelah merayu kanan-kiri atas-bawah, akhirnya kami mendapat tumpangan di asrama UPI. &ternyata di sana sudah banyak banget yang ngungging tunggang langgang. Ada Aji Sebastian yang membuncit dan si Slamet. (baca: catatan seri 2)

“Mas munji, mari atuh kita teh makan surabi Bandung. Mumpung di sini. Biar Dewi yang traktir...” kata Dewi, si mojang Bandung yang dulu pernah mengabdi bersama di Kupang. Kemudan dia jadi ibu asrama putri di UPI. 
“Boleh teh, ajak opa Diro ya...” jawabku yang tidak melupakan teman bagaimanapun bentuk muka si teman itu. 
Tapi entah bagaimana ceritanya, tapi yang jelas malam itu kami turun dari angkot pada tempat yang tidak signifikan. Jadinya kami agak jalan dikit. Mungkin jalan sampai 500K. :D
Akhirnya sampailah kami di tempat surabi yang kata teh Dewi paling enak itu. Aku iya-iya aja deh, dari pada suruh bayar sendiri kalo ga meng-iya-kan kata-katanya. Haha....
(bareng teh Dewi dan opa Diro)
Sampe juga kembali di asrama, aku lihat Aji bastian, Slamet &temen-temen yang lain sudah sangat sibuk dengan lima tumpuk bukunya masing-masing. My God..., kayaknya aku ga bakal konsen belajar. Lagian kaki juga sudah pegel gini. aku tengok kiri, malah opa Diro sudah molor. Wkwkkk
“Ayo munji, kita harus belajar mati-matian malam ini”, kata Aji Bastian
“Iya, siap..!!!” Jawabku.
“Oke, soal pertama... siapa yang mengetik naskah proklamasi?” tanyaku.
“Sayuti Melik”, jawab Aji.
“Iya betul. Lanjut. Siapa nama pemeran utama dalam serial City Hunter?” tanyaku
Aji jawab, “Lee min ho”
“Pinter, siapa pemain terbaik peraih D’or?” tanyaku.
“Messi..” jawab Aji.
“Oke, siapa anggota SNSD yang paling cantik?” tanyaku lagi.
“Stop! Stop! Stop! Kalian apa-apaan? Pertanyaan macam apa itu???. Bla.bla.bla” tiba-tiba opa Diro bangun& ngomel-ngomel membabi buta.
Tapi aku dan Aji tidak peduli dan kami langsung tinggal tidur dengan pulasnya. Zzzzzzz.

 “Mas, ayo siap-siap...!” teh Dewi sudah berdiri dengan tegar& penuh dedikasi tinggi di depan pitu kamar kami.
“Sebentar teh... aduh gimana nih, semalem aku ga belajar” kataku.
“Sudahlah aku juga ga. Haha..” Jawab teh Dewi.

Kami serombongan menuju tempat tes. Dan setelah 2 kali ke toilet karena grogi, akhirnya siap masuk ruang test juga& aku kebagian tempat duduk deret terakhir.
“Aduh, gimana nih... kenapa soal hitungannya harus angka semua. Aku kan ga suka angka, ga suka ngitung, kecuali ngitung uang...”, kataku dalam hati.
Aku tengok kanan dan serta merta aku ingat kalau Aji Bastian adalah guru Matematika. Tapi aku liat mukanya juga sudah seruwet rumus Pitagoras, aku ga jadi nanya. Aku tengok sebelah kiri yang aku ga tau itu siapa dan dari mana asalnya... tapi ya Tuhan... dia menghadapi soal-soal di komputer seolah – olah sedang menghadapi harta karun yang tidak boleh dicolak-colek. Hmmm Gimana nih, waktunya tinggal beberapa menit lagi& soal matematika ini benar-benar menyiksaku.
Dengan pasrahnya aku berucap, “Bismillahirahmanirrahim..”. Aku baca basmallah dan pejam mata. Kemudian aku klik-klik aja mousenya, ga tau jawab apaan.  Tepat selesai tanpa ada waktu untuk cek ulang. Wkkkk. Komputer otomatis re-set& keluarlah nilai-nilai itu..
“Aduh, apaan nih... kok nilaiku begini”, kataku tanpa sadar.
“Ini lolos passing grade mas, berdo’a aja semoga lulus”, tiba-tiba ada seorang cewek cantik yang datang ke sampingku.
“Iya, aamiin”, kataku.
 Akh, sudahlah, lupakan! Aku takut bayangin lulus atau ga. wkkkk  

Ga sempet jalan-jalan. Aku, opa Diro dan Slamet (kali ini Slamet ikut kami :D) mutusin buat langsung pulang dan main kejar-kejaran waktu.
50 menit lagi kereta berangkat. Kami yakin masih ada waktu. “Ke stasiun naik angkot yang mana mas?”, tanya Slamet.
“Ga tau nih, aku juga lupa. Kayaknya ini nih yang warna biru. Naik cepetan!”, jawabku sambil menyeret opa Diro dan Slamet.
Ternyata angkotnya berjalan lebih lambat dari langkah jarum jam yang kehabisan baterai. Benar-benar sangat lambat. Entah karena ada 3 ibu-ibu besar di depan kami jadi angkotnya berat... atau memang ini angkot berkekuatan gerobak. Belum lagi mampir di pom bensin, belum lagi kami terlalu patuh rute hingga tidak turun di perempatan yang lebih cepet (baca: bingung jalan).

Akhirnya tibalah kami di tempat yang sangat bahagia, yaitu stasiun Kereta Api. “Opa, itu kayaknya keretanya tuh.. cepetan!!”, kataku.
Ya Tuhan, kami bertiga lari tanpa pedulikan sekitar. Si Slamet dengan barang bawaannya yang super duper besar, opa Diro dengan sepatu pantovel, aku dengan jaket bulu super tebal warna biru cerah milik emak’ku (berasa aktor korea lagi akting di musim salju). Kami benar- benar seperti pelari maraton profesional... tidak peduli apapun. Mungkin kalau di FTV sudah jadi judul ~Mas-mas Mengejar Kereta~
Akhirnya kami sampai stasiun& langsung menuju loket.
“Mbak, tiket ke Kroya masih ada?”, tanyaku sambil terengah-engah.
“Masih mas, masih 5 kursi. Berangkat jam 11”, jawabnya dengan ramah.
Sesaat mbak-mbak itu sadar& kaget sambil liat jam di tangannya. Terus dia bilang, “Lho mas ini kan jam 11. Mau kereta yang di depan itu?”
“Iya mbak, makanya cepetan...”, Kataku.
Dan aku lihat petugas tiket yang satu seperti memberi tanda, agar menunggu penumpang dadakan ini.
“Udah mas ga usah tulis di kartu pemesanan, langsung saja. Berapa orang?”tanyanya.
“Tiga mbak...”, kataku. Aku sibuk ribut KTP opa yang entah di mana. Tapi mbaknya dengan cekatan nyuruh pake KTPku saja.
Tiket di tangan, kami langsung lari ke pintu check-in tiket.
“Cepet pak, kereta sudah mau berangkat!”, tiba – tiba opa Diro seperti membentak petugas.
My God. opa Diro... udah untung kereta mau nunggu, masih bentak petugas pula. Wkwkkk.
Yes!!! Akhirnya kami sudah berada di kereta. Duduk dengan manisnya. Go Home!!! :D :D
Tepat ba’da magrib aku sampai di stasiun Kroya diiringi hujan yang sangat deras. Di pintu keluar, bapakku sudah menunggu lengkap dengan sepeda motor dan mantel di tangannya. Kami bergegas menuju rumah dalam dinginnya perjalanan malam yang diguyur hujan.
#Dan kira2 bagaimana hasil tes-nya? Tunggu next series. :D

                   
 

Wednesday, 20 May 2015

Catatan 9: Geri Berdarah – darah

 Geri Berdarah – darah

Kenapa judulnya harus sehoror itu? Sebenernya cerita ini ga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan apapun. Apalagi proses melahirkan beranak – pinak. Geri adalah salah satu temen kuliahku di Jakarta. Seorang cowok kelahiran Maluku yang besar di Magelang. Yang unik dari dia adalah, hobinya yang sangat suka menempatkan topi di kepalanya setiap kali ada kesempatan, alias pake topi dimanapun dia berada. Dia juga sangat suka membeli buku kemudian menumpuknya di meja kamarnya di asrama. Dan pertama aku kenal dia, aku kira dia adalah rival bebuyutannya Tom dalam serial Tom and Jerry. Ternyata justru dia sangat suka bercengkerama dengan kucing. 

(spoiled Geri,, dia pake topi kan? haha...)

Baiklah, mari kita awali pendarahan ini. Sebenernya karena waktu kecil aktivitasku adalah sakit-sakitan dan sampe bosen dengan jarum suntik, jadilah pas udah gede aku sangat takut liat jarum suntik atau apapun yang sejenis dengan itu, seperti ketakutanku melihat kucing yang di mataku terlihat seperti macan. Tepat di usia 26, aku baru tahu kalo golongan darahku adalah “A”, itu gara – gara perpanjangan SIM yang mengharuskan petugasnya mengambil sample darah. Seandainya bisa diganti, tentu aku lebih siap dicabut rambut uban sebanyak – banyaknya dari pada harus diambil sample darah. 

Bergerak dari pendarahan satu, ternyata berlanjut ke pendarahan berikutnya. Itu adalah kisah gengsi dan rasa penasaran yang amat kuat. Saat di kampus UNJ ada kegiatan donor darah, Oma dengan serta merta seperti prajurit perang yang menempatkan diri di Garda depan. Dengan kelihaiannya dalam bersilat lidah, dia bilang “Hyung, ayo donk ikut donor! Kita kan keluarga Cullent masa ga ikut sih!! Aku adalah Bella dan kamu adalah Edward Cullent”. Ditambah lagi Geri yang ikut nimbrung “Ayo Ji, kita ikutan Donor. Donor itu enak lho, selain bermanfaat untuk orang lain juga bikin badan kita jadi tambah sehat. Bla. Bla. Bla.” Geri udah mulai ceramah mirip kontestan Da’i di TV. Bingungnya, apakah aku harus bilang kalo aku takut??? Gengsi lah. Akhirnya dengan lesunya aku jawab “Ayo..., tapi aku ke toilet dulu ya..” (berharap setelah dari toilet pikiran Geri berubah mengurungkan niatnya ikut – ikut donor).

Sampai di tempat acara, aku terus berjalan di belakang Geri sambil berdo’a ada kesempatan yang wajar untuk melarikan diri, setelah daftar dan duduk di ruang tunggu, Oma sudah di sana sama si Uwi - Uwi. Kayaknya dia memang punya anstusiasme yang tinggi dalam segala bidang termasuk donor- mendonor. Dan tibalah saat yang mendebarkan tiba, dengan jarum yang berukuran raksasa, tanpa belas kasihan petugas itu menancapkannya ke lenganku. Kalo boleh milih rasanya aku mendingan pingsan saja. Setetes- dua tetes... tambah dag dig dug. Ternyata ga terasa satu kantong darah sudah terisi penuh. Yes..... sukses satu kantong! Ternyata ga seseram yang aku kira. Sejak saat itulah aku bertekad jadi pendonor darah sejati di manapun berada.

(Di lengan kiri, hasil menjadi member keluarga Cullent)

Kisah darah selanjutnya adalah saat aku sudah lulus dari belajarku di Jakarta dan kemudian aku bekerja dan kos di Purwokerto. Entah lupa mencatat  takdir atau bagaimana, tiba – tiba Malaikat mempertemukan lagi aku dengan Geri. Belakangan aku tahu, dia lagi numpang di kos adiknya yang kuliah di sana. Jadilah aku tularkan dia dengan virus Jogging. Saat sedang tiduran karena kecape’an setelah jogging pagi itulah, beberapa jam kemudian dengan kekuatan penuh Geri datang lagi dan mendobrak pintu kamar kosku. “Ayo Ji, ada donor darah besar – besaran di Gor. Pokoknya rame banget. Katanya target 3000 pendonor”. WTF, donor kok ditarget – target. Dan benar saja, setelah kami sampai sana, kami ada di urutan dua ribu sekian. Fantastis!. Dari mulai berebut formulir, antrian panjang desak – desakan.. aku masih mikir ada apa dibalik fenomena membludaknya peserta acara donor ini.

Saat kami sedang duduk antri mepet – mepet itulah, disebelah kami ada mahluk jelmaan K-Pop lengkap dengan aksesoris yang menempel layaknya mau konser. Diinterogasi, ditanya – tanya asal kami dan sebagainya. Apakah mukaku dan Geri seperti Alien sehingga tidak layak berada di Bumi? Dari situ aku dan Geri sadar kalau kami terlalu tua untuk memahami style pemuda sekarang.

(pict alay? ga pake spoiled pict, takut dituntut. Wkwkk)

Giliran kami dipanggil, nomor berurutan Geri, aku dan si K-Pop. Karena berdesak- desakan dan agak licin itulah, ada adegan fenomenal yang gak perlu terjadi... KEPLESET. Ya, aku kepleset. Betapa malunya, rasanya aku ingin menelan apapun yang ada di depanku untuk menghilangkan rasa malu. Wegh... PD dan ketampananku terasa turun 0,1%. “Lo ga pa- pa ji? Ati – ati lo..”. Dengan muka malu aku blg “ ga pa – pa Ger... santai aja. Lanjut” (padahal jalan agak miring2, pantat sakit, sikut pegel. wkwkk).

(Ini dia,, sendal perpaduan kuning – hijau yang bikin aku malu seantero Gor)

Karena adegan kepleset itu, aku jadi kaya orang bingung, grogi dan bego milih ranjang buat donor. Banyak banget ada ratusan petugas& ranjang. Maklum, 3000 pendonor. He... Saat darahku sedang dirampok oleh petugas itulah, aku melihat ada cewek cantik tinggi semampai bak model... mirip – mirip sama Taylor Swift memapah cowok sangar layaknya Barry Prima aktor silat tahun 80-an.
(ini dia sang legenda bintang laga Indonesia,, bang Barry Prima. Nyomot google :D).

Belakangan aku tahu kata Gery kalo cowok sangar yang dipapah itu adalah pacarnya karena pingsan sewaktu diambil darahnya. Wkwkkkk. Ternyata ada yang lebih mengharukan dari pada tragedi kepleset. Haha....

Setelah keluar dari Gor, aku shock. Ternyata banyak banget barang – barang yang dikasih dari panitia... roti, wafer, kaos, gelas, toples, tas, dll.. semua persembahan dari Tupp*rware. Bener – bener puas. Puas jatuh! wkkkk

Friday, 1 August 2014

Catatan 8: Tamasya Unik

02082014/ 01.36 WIB
Sebenernya ini adalah cerita lebih dari separuh tahun lalu, tapi kayaknya belum terlalu busuk kalo diunggah sekarang. He....
Seperti yang udah aku ceritakan sebelumnya tentang proses pemilihan apapun yang akhirnya selalu membuat aku dan oma jadi satu kelompok. Tapi entah angin apa yang terjadi kala itu hingga dosen berfikiran untuk membagi kelas menjadi beberapa kelompok sekaligus memilih ketua untuk masing – masing kelompok. Dan jadilah untuk petama kalinya aku dan oma beda kelompok karena dosen sudah memilih kami menjadi ketua untuk kelompok yang berbeda. Anyway, hidup harus tetap berlanjut meskipun separuh ubanku rontok. Wkwkkk..
Dan akhirnya, inilah teman – teman satu kelompokku yang sangat menyenangkan dan unik sekaligus menjadi partner kerja selama beberapa bulan untuk praktik mengajar di sekolah.
Marilah kita korek satu – satu, ho...
1. Munji hardani, (jangan heran dengan foto ini, kadang – kadang wajahku emang berubah jadi aktor Tailand. Haha.....)

sebenernya aku ketua untuk kelompok ini. Tapi entah kenapa aku lebih suka membagi tugas dengan cara yang sangat aneh, yaitu diundi. Jadi, setiap kali ada tugas dari sekolah, misal ada guru yang ga berangkat dan musti gantiin ngajar ataupun sekedar memencet bel pergantian pelajaran, selalu kami lakukan dengan dengan cara MENGUNDI. Anyway, selama dengan mereka, aku adalah orang yang selalu memberikan banyak motifasi dan itu bukan karena aku orang bijak. Tapi karena saat itu aku sedang terpengaruh sama karakter @pengacara Kang di drama korea @God of study.

2. Novita Aprilia
Dia sering memanggil dirinya sendiri Nopek. Tapi aku lebih suka manggil dia lemak. Bukan tanpa alasan, tapi karena dia sangat menyukai gorengan dan memakannya hingga bertumpuk – tumpuk dengan alasan sedang diet dan ga mau makan nasi. Tapi hal yang paling bikin kami salut adalah, dia bisa tidur kapanpun dan di manapun. Ho..... 
(jangan tertipu dengan foto ini, karena dia sudah menggeliat – geliat dengan ekstrim agar terlihat langsing dan cantik saat di foto)

Dan dia adalah sosok yang sangat setia dengan kekasihnya, kisah cintanya bak telenovela dengan cerita yang sangat rumit dan fluktuatif serta sangat tidak bisa ditebak endingnya. Dan apapun topik pembicaran yang dia bahas, akhirnya akan selalu kembali pada Love Story miliknya.

3. Winelies Ima Andriana.
      

      (ini adalah foto sebelum kami berdesak – desakkan di metromini dan kucel.. ho.. jangan keliru ya, Mama Wine itu yang pake kerudung. Kalo yang pake batik coklat itu Eko. Haha..)

Semua bilang dia cantik. Sampai – sampai setiap kami pulang ngajar, sudah ada segerombolan karyawan kantor yang sengaja nongkrong di warteg dan ngledekin dia. Selain itu dia juga paling pintar di antara kami.  Atas dasar itulah, kami selalu berusaha agar dia  mengerjakan tugas lebih dulu. Tapi di balik itu semua, dia adalah sosok yang sangat keibuan. Selain paling cepat meneteskan air mata, dia adalah orang yang selalu mencuil -  cuil makanan alias membagi makanan dengan sangat adil. Heran, untuk satu biskuit saja dia bisa membagi dengan takaran yang sama untuk kami berlima, maka dari itu kami menyebutnya sebagai “mama”. Tapi dia akan sangat marah dan mencak – mencak kalo aku panggil mama kerut. Karena dia merasa tidak berkerut.

4. Fitri Melitasari
Dia adalah salah satu sosok yang memberi keberkahan padaku; karena badannya yang mungil, jadinya aku paling suka duduk dekat dia saat makan. Karena sudah dipastikan dia akan melempar semua makanan ke piringku setelah dia makan dua suap saja. Ha......

Pertandingan game “Angry Bird” antara Eko dan Nopek



Di asrama, fitri gak mau kalah melanjutkan “angry Bird”
Dan hal lain yang unik dari dia adalah, dia tahu berita – berita terhangat. Bukan hanya berita selebritis, tapi juga gosip yang lagi hangat di antara teman – teman. Jadilah dia tempat bertanya untuk mendapat info berita terkini dan kami menamainya sebagai tim kasak – kusuk.

5. Eko Yulianto
Kalau yang ini adalah orang yang sangat – sangat lembut. Selembut tepung tapioka.

Lihatlah betapa Eko dengan kelembutan hatinya menunggu Nopek yang melahap gorengan  kesukaannya

Dia adalah sosok yang harus dilindungi diantara kami. Selain berkulit putih seperti boneka manekin, dia juga orang yang paling rajin. Selalu mengerjakan tugas – tugas dengan sangat baik dan membuat kami tercengang. Contohnya adalah dengan telatennya dia membuat power point dengan hiasan kupu – kupu kecil yang bergerak. Dan aku pikir, dia takut panas matahari. &karena kebaikannya, kami memanggilnya “peri”. Ho...

 Sekarang aku mau ceritakan hal – hal heboh apa saja yang selalu kami lakukan:
1. Kami mengadakan ritual menabung dua ribu rupiah setiap hari dan mama wine bertugas menyimpannya. Setelah terkumpul, biasanya kami gunakan untuk makan bersama, makanan yang sebenarnya tidak cocok dilidah kami yang ujung – ujungnya ga habis dimakan. Misal mie ramen, spageti, dll. Cita – cita kami yang belum terwujud adalah makan pizza bareng, karena uang tabungan kami di mama selalu kurang. Wkkk.

2. Warteg. Itu adalah resto sejuta umat, termasuk untuk kami. Tapi yang unik adalah, kami selalu berusaha untuk mendapatkan harga paling murah tiap kali beli makanan di warteg kesayangan kami itu yang kami beri nama warteg pink. Kami selalu mati – matian berusaha mendapatkan diskon entah apapun caranya; apakah dengan membeli nasi dengan porsi setengah, seperempat ataupun sebutir nasi saja. Tapi untuk hal ini, Fitri selalu menang dengan mendapatkan harga termurah karena dia ga perlu beli banyak makanan untuk tubuh mungilnya. Tapi ga selalu begitu, Fitri dan Eko adalah dua kandidat yang selalu bersaing mendapatkan harga paling murah. Mungkin penjaga warteg terpesona dengan kelembutan Eko.

3. Panen buah. Di depan asrama kami, ada pohon yang entah apa namanya yang mempunyai buah yang kecil – kecil dan sangat manis. Ritual kami sebelum berangkat mengajar adalah memanen buah – buah itu (mungkin sebagai sarapan pagi. wkwkkk). Mungkin dua pohon itu sangat tersiksa karena kami selalu merontokkan buah – buahnya tiap pagi.


Kehebohan memanen buah tiap pagi. Berlomba melonjak – lonjak.


Adegan yang tidak perlu ditiru: Nopek dan mama Wine sedang merampok asrama – memanen buah.

4. Belajar VS makan. Mungkin di mata kelompok lain, kami adalah kelompok yang sangat rajin. Tapi tahukah anda tentang kebusukan apa saja yang terjadi di dalamnya? Haha... setiap kami berkumpul, hal pertama yang kami bahas bukan tugas kelompok. Tapi makanan!. Ya, selalu saja ada di antara kami yang belum makan dan dilanda kelaparan. Yang hasilnya adalah, berkelompok selama 3 jam dipotong makan, dengerin curhatnya Nopek dan nungguin dia foto – foto narsis sampai lelah, dengerin berita terkini dari Fitri, ditambah lagi Eko dan Mama yang sibuk download lirik lagu dari manca sampai keroncong, yang akhirnya selalu berujung pada pemaksaan koor masal lagunya Raysa – Arti Menunggu. Kalau ritual – ritual itu udah terlaksana, barulah kami bisa mengerjakan tugas dengan tenang dan singkat. Kenapa singkat? Karena setengah jam kemudian satu – satu dari kami mulai menguap dan meletakkan kepala di meja alias molor.


Mama wine& fitri menghabiskan 1 toples kerupuk..


5. Taxi murah. Ga tahu ya apakah sopirnya muak atau muntah. Tapi yang jelas kami naik 1 taxi untuk berlima dan jarak asrama ke sekolah juga dekat. Walhasil, kami bisa bayar taxi dengan harga murah.
Tapi sebenernya kami paling suka naik metro mini, karena para pengamennya itu benar – benar memacu andrenalin, seperti Nopek yang pernah dimarahin pengamen gara – gara ga ngasih uang. Hhaha..., itu kan keren.
Kami juga suka sekali pergi berduyun – duyun seperti rombongan pengungsi hanya untuk membeli satu barang saja bahkan kadang tidak membeli apapaun. Haha... salah satunya, kami pernah ramai – ramai ke pasar Senen hanya untuk makan mie ayam pinggir jalan dan minum air putih yang kami bawa sendiri dengan botol minum kebanggaan kami masing - masing. Karena kesederhanaan inilah, kami layak mendapat predikat Keluarga Cemara. Wkwkk. 

Menunggu mie ayam murah meriah depan pasar Senen


Hari Sabtu pagi itu,  kami sudah siap – siap dengan pakaian rapih. Sebenernya setiap sabtu pagi kami memang mempunyai tugas melatih PBB di sekolah, tapi kebetulan Sabtu itu ekskul libur. Namun begitu kami tetap ingin keluar asrama pagi – pagi, selain karena ingin refreshing kami juga lagi males ikut senam. Haha.... dan mutlak, pagi itu kami menipu penjaga asrama dengan mengatakan mau mengajar ekskul PBB di sekolah. Itu karena kami tidak mau piknik kami pagi itu gagal. Semalaman suntuk secara mengendap – ngendap dan suara mendesah – desah, eh... maksudnya suara pelan, kami telah melakukan rapat darurat membahas piknik itu. Dari daftar Menara Eifel Paris, Taj Mahal India, Tembok Besar China dan tempat wisata lain di dunia, akhirnya malam itu diputuskan bahwa besok paginya kami akan piknik ke suatu tempat yang fenomenal yaitu Ragunan yang murah – meriah. Wkwkk....
Setelah berhasil lolos keluar asrama, seperti biasa hal pertama yang kami cari adalah ‘makanan’ buat bekal piknik. Walaupun ini hari spesial karena kami mau berwisata, tapi isi kantong tidak ikut spesial, jadinya kami menuju warteg Pink langganan kami. Setelah menggunakan berbagai metode untuk mendapatkan makanan yang banyak dan murah, kami siap berangkat......
Turun dari bus trans Jakarta, kami menuju loket karcis. Dengan kekuatan penuh kami berlima mendapatkan tempat yang strategis. Dan kahirnya, tibalah kami di pintu masuk Ragunan. Ternyata tidak salah kami memilih tempat ini, selain banyak penjual gorengan kesukaannya Nopek dengan harga super murah, Ragunan juga sangat sejuk. Jarang di Jakarta ada tempat yang ga panas. He....
Ye.....,, kami masuk layaknya pengunjung lain. Kayaknya ga ada yang tahu kalau sebenarnya kami adalah wisatawan paling miskin. Haha... hal pertama yang kami lakukan adalah foto – foto. Kami berfoto dengan berbagai pose yang tidak wajar menggunakan I-pad baru miliknya Fitri. Asek!. Dan perutpun kruwes- kruwes, saatnya kami buka bekal fantastis yang kami bawa yaitu nasi RAMES. Sebenernya dalam hati heran juga, ini mau piknik apa pindah tempat makan doang. Ga di asrama ga plesiran, menunya tetep sama. Haha....
Setelah mengisi perut dengan kenyangnya, inilah kegiatan positif yang kami lakukan yaitu tanya jawab soal – soal CPNS. Dan skor tertinggi kayaknya Wine dan Eko karena mereka paling banyak jawab soal dengan benar. Kegiatan belajar itu kami lakukan dengan nomaden, di deket Kudanil yang nyengir, di kandang kuda Zebra yang tiba – tiba buang kotoran dan itu bikin kami pindah lagi, selonjoran di atas rumput, dan tempat – tempat lain. Dan akhirnya kami sampai di depan pantat gajah, tak lupa kami berpose dengan manisnya. Kemudian kami berlanjut ke hewan kijang. Di sebelah kami ada keluarga kecil yang memberi makan kijang – kijang itu dengan roti tawar. Tami kami hanya mampu memancing kijang – kijang itu dengan plastik bekas agar mau mendekat dan diajak foto. Mungkin karena merasa tertipu, kijang – kijang itu akhirnya kabur juga.
Setelah melewati aneka macam Burung dan Simpanse, kami udah merasa puas walaupun sebenarnya banyak hewan yang kandangnya ditutup, mungkin hewan – hewannya lagi sakit magh gara  - gara makan plastik bekas :D.

Sedikit memalukan dan malu – malu. Tapi memang makan rames itu mengasyikan. 

Puasnya...,, piknik murah meriah dan menyenangkan. Ternyata kedekatan hubungan kami dengan warteg Pink sudah sanyat mendarah daging hingga pulang dari Ragunanpun, kami masih sempat mampir lagi untuk beli makan siang. Wow! Dan pelayan warteg itu ga percaya kalau kami habis berTAMASYA. Haha... gimana orang mau percaya. Aku sendiri aja ga percaya dengan yang terjadi. Piknik kok bawa bekal rames. :D

Akhirnya sekarang usai sudah tugas kami mengajar satu semester di SMPN 47 Jakarta. Banyak suka, banyak duka dan banyak makan. :D
Terimakasih telah menjadi keluarga Einstein.



Friday, 31 January 2014

Catatan 7: Ujian Akhir



Ujian Akhir   
                                                                                         


26/1/’14
Hari ini adalah hari yang bikin aku sangat gugup. Benar saja, hari ini adalah pelaksanaan ujian, penentuan apakah nantinya aku bakal lulus atau ga…
Pagi ini semua sudah berbondong – bondong menuju lab computer karena ujian diadakan Online. Termasuk juga oma yang udah nongkrong di depan gerbang lab, seolah – olah hendak mendobrak pintu lab dengan kekuatan penuh. “Kayaknya penting – ga penting dah kalau masih belajar saat garis mati seperti ini”, kataku.. sementara oma masih sibuk menganggu teman lain yang sedang baca buku dengan bertanya ini itu. Hemmmm, tampaknya keinginannya untuk mendapatkan nilai terbaik seIndonesia belum padam. Pengen nyiram aja rasanya, biar ga cuma padam, tapi hangus berasap sekalian.

Dag.dig.dug. tes gelombang pertama udah selesai, kini giliran tahap dua yang harus masuk ruang eksekusi. Yang bikin heran adalah, mau diacak pake metode apapun, aku dan Oma selalu jadi satu kelompok, dari setiap peer teaching sampai ujian akhir ini. Tiba – tiba Oma menarik tanganku, lebih tepatnya menyeret –nyeret. “Sini aja Hyung..”, katanya. Dia memilih bangku ujian deret paling depan. Tapi aku merasa ada yang tidak beres, belum ada 2 menit aku berfikir, tiba – tiba dia melanjutkan kata – katanya, “Tuh kan Hyung, teknisinya cakep – cakep banget… bikin ga kuat”.
“Oh my God.., saat genting kayak gini sempet – sempetnya dia melakukan ritualnya itu…”, “Dasar Oma ganjen”, batinku.
Setelah diberikan simulasi, tibalah saatnya mulai mengerjakan soal yang sesungguhnya. Apa???!!! Perasaan tadi simulasinya cuma 1+1 = … waduw!!! Tapi kenapa soal sebenarnya sangat berlebihan seperti ini, textnya.. ya ampun… mungkin LCD 30” juga ga bakal mampu menampung text sepanjang ini.

Gile.., soalnya ada 60. Aku baru ngerjain sekitar 40 soal, waktunya tinggal 30 menit… hmm… saatnya saling merecoki satu sama lain, lebih tepatnya, aku yang banyak tanya ke Oma. Ha… kalau bisa sih sebenarnya aku pengen menyerahkan wewenang ini saja, biar Oma mengerjakan dua computer. Wkwkk. Kehebohan kami di ruang ujian itu tentu saja menyulut pengawas untuk mengatakan “Stttttt…..”. tapi itu tidak membuat kami gentar. Ha…
Akhirnya dengan sangat tiba – tiba computer sudah ngesave pekerjaan kami, yang artinya waktu mengerjakan soal sudah selesai.
“Hyung, kita harus berpura – pura terlihat wajar. Jangan sampai terlihat bermuram durja. Biar teman – teman menyangka kalau kita bisa mengerjakan dengan baik. Dan aku harus terlihat cantik”, katanya sambil mengangkat dagu. Sementara aku masih lesu karena merasa tidak terlalu brilliant dalam mengerjakan soal tadi.

………………….
29/1 ’14 malam
Tara…. Hari penentuan kelulusan ujian tiba. Lebih tepatnya adalah pemilik akun @dediberuang yang merebut komputerku dan memaksa membuka FB dengan akunnya itu, katanya untuk melihat pengumuman kelulusan yang diunggah lewat FB. Waduh, benar saja dalam hitungan detik semua berduyun – duyun ke kamarku. Wah, sekarang kamarku terasa sesak penat layaknya kamar yang digrebek karena ada adegan mesum. Ho…. Tapi yang bikin aku ga rela adalah, kegiatanku membaca berita terbaru dari artis kesayanganku Cristina Aguilera jadi tertunda. Belum lagi ada tawa girang lulus yang suaranya membahana.
Hoam… anyway, thanks buat Oma untuk mau direcokin. Akhirnya kita berdua masuk dalam daftar lulus.. dan buat yang belum lulus, fighting!