02082014/ 01.36 WIB
Sebenernya ini adalah
cerita lebih dari separuh tahun lalu, tapi kayaknya belum terlalu busuk kalo
diunggah sekarang. He....
Seperti yang udah aku
ceritakan sebelumnya tentang proses pemilihan apapun yang akhirnya selalu
membuat aku dan oma jadi satu kelompok. Tapi entah angin apa yang terjadi kala
itu hingga dosen berfikiran untuk membagi kelas menjadi beberapa kelompok
sekaligus memilih ketua untuk masing – masing kelompok. Dan jadilah untuk
petama kalinya aku dan oma beda kelompok karena dosen sudah memilih kami
menjadi ketua untuk kelompok yang berbeda. Anyway, hidup harus tetap berlanjut
meskipun separuh ubanku rontok. Wkwkkk..
Dan akhirnya, inilah
teman – teman satu kelompokku yang sangat menyenangkan dan unik sekaligus
menjadi partner kerja selama beberapa bulan untuk praktik mengajar di sekolah.
Marilah kita korek
satu – satu, ho...
1. Munji hardani, (jangan heran dengan foto ini, kadang – kadang wajahku emang berubah jadi aktor Tailand. Haha.....)
1. Munji hardani, (jangan heran dengan foto ini, kadang – kadang wajahku emang berubah jadi aktor Tailand. Haha.....)
sebenernya aku ketua untuk kelompok ini. Tapi entah
kenapa aku lebih suka membagi tugas dengan cara yang sangat aneh, yaitu diundi.
Jadi, setiap kali ada tugas dari sekolah, misal ada guru yang ga berangkat dan
musti gantiin ngajar ataupun sekedar memencet bel pergantian pelajaran, selalu
kami lakukan dengan dengan cara MENGUNDI. Anyway, selama dengan mereka, aku
adalah orang yang selalu memberikan banyak motifasi dan itu bukan karena aku
orang bijak. Tapi karena saat itu aku sedang terpengaruh sama karakter
@pengacara Kang di drama korea @God of study.
2. Novita Aprilia
Dia sering memanggil dirinya sendiri Nopek. Tapi aku
lebih suka manggil dia lemak. Bukan tanpa alasan, tapi karena dia sangat
menyukai gorengan dan memakannya hingga bertumpuk – tumpuk dengan alasan sedang
diet dan ga mau makan nasi. Tapi hal yang paling bikin kami salut adalah, dia
bisa tidur kapanpun dan di manapun. Ho.....
(jangan tertipu dengan foto ini,
karena dia sudah menggeliat – geliat dengan ekstrim agar terlihat langsing dan
cantik saat di foto)
3. Winelies Ima Andriana.
(ini adalah foto sebelum kami berdesak – desakkan di metromini
dan kucel.. ho.. jangan keliru ya, Mama Wine itu yang pake kerudung. Kalo yang
pake batik coklat itu Eko. Haha..)
Semua bilang dia cantik. Sampai – sampai setiap kami
pulang ngajar, sudah ada segerombolan karyawan kantor yang sengaja nongkrong di
warteg dan ngledekin dia. Selain itu dia juga paling pintar di antara kami. Atas dasar itulah, kami selalu berusaha agar
dia mengerjakan tugas lebih dulu. Tapi
di balik itu semua, dia adalah sosok yang sangat keibuan. Selain paling cepat
meneteskan air mata, dia adalah orang yang selalu mencuil - cuil makanan alias membagi makanan dengan
sangat adil. Heran, untuk satu biskuit saja dia bisa membagi dengan takaran
yang sama untuk kami berlima, maka dari itu kami menyebutnya sebagai “mama”.
Tapi dia akan sangat marah dan mencak – mencak kalo aku panggil mama kerut.
Karena dia merasa tidak berkerut.
4. Fitri Melitasari
4. Fitri Melitasari
Dia adalah salah satu sosok yang memberi keberkahan
padaku; karena badannya yang mungil, jadinya aku paling suka duduk dekat dia
saat makan. Karena sudah dipastikan dia akan melempar semua makanan ke piringku
setelah dia makan dua suap saja. Ha......
|
Pertandingan game “Angry Bird” antara Eko dan Nopek
|
|
|
5. Eko Yulianto
Kalau yang ini adalah orang yang sangat – sangat lembut.
Selembut tepung tapioka.
|
|
Dia adalah sosok yang harus dilindungi diantara kami.
Selain berkulit putih seperti boneka manekin, dia juga orang yang paling rajin.
Selalu mengerjakan tugas – tugas dengan sangat baik dan membuat kami
tercengang. Contohnya adalah dengan telatennya dia membuat power point dengan
hiasan kupu – kupu kecil yang bergerak. Dan aku pikir, dia takut panas
matahari. &karena kebaikannya, kami memanggilnya “peri”. Ho...
Sekarang aku mau ceritakan hal – hal heboh apa
saja yang selalu kami lakukan:
1. Kami mengadakan ritual menabung dua ribu rupiah setiap hari dan mama wine bertugas menyimpannya. Setelah terkumpul, biasanya kami gunakan untuk makan bersama, makanan yang sebenarnya tidak cocok dilidah kami yang ujung – ujungnya ga habis dimakan. Misal mie ramen, spageti, dll. Cita – cita kami yang belum terwujud adalah makan pizza bareng, karena uang tabungan kami di mama selalu kurang. Wkkk.
2. Warteg. Itu adalah resto sejuta umat, termasuk untuk kami. Tapi yang unik adalah, kami selalu berusaha untuk mendapatkan harga paling murah tiap kali beli makanan di warteg kesayangan kami itu yang kami beri nama warteg pink. Kami selalu mati – matian berusaha mendapatkan diskon entah apapun caranya; apakah dengan membeli nasi dengan porsi setengah, seperempat ataupun sebutir nasi saja. Tapi untuk hal ini, Fitri selalu menang dengan mendapatkan harga termurah karena dia ga perlu beli banyak makanan untuk tubuh mungilnya. Tapi ga selalu begitu, Fitri dan Eko adalah dua kandidat yang selalu bersaing mendapatkan harga paling murah. Mungkin penjaga warteg terpesona dengan kelembutan Eko.
3. Panen buah. Di depan asrama kami, ada pohon yang entah apa namanya yang mempunyai buah yang kecil – kecil dan sangat manis. Ritual kami sebelum berangkat mengajar adalah memanen buah – buah itu (mungkin sebagai sarapan pagi. wkwkkk). Mungkin dua pohon itu sangat tersiksa karena kami selalu merontokkan buah – buahnya tiap pagi.
1. Kami mengadakan ritual menabung dua ribu rupiah setiap hari dan mama wine bertugas menyimpannya. Setelah terkumpul, biasanya kami gunakan untuk makan bersama, makanan yang sebenarnya tidak cocok dilidah kami yang ujung – ujungnya ga habis dimakan. Misal mie ramen, spageti, dll. Cita – cita kami yang belum terwujud adalah makan pizza bareng, karena uang tabungan kami di mama selalu kurang. Wkkk.
2. Warteg. Itu adalah resto sejuta umat, termasuk untuk kami. Tapi yang unik adalah, kami selalu berusaha untuk mendapatkan harga paling murah tiap kali beli makanan di warteg kesayangan kami itu yang kami beri nama warteg pink. Kami selalu mati – matian berusaha mendapatkan diskon entah apapun caranya; apakah dengan membeli nasi dengan porsi setengah, seperempat ataupun sebutir nasi saja. Tapi untuk hal ini, Fitri selalu menang dengan mendapatkan harga termurah karena dia ga perlu beli banyak makanan untuk tubuh mungilnya. Tapi ga selalu begitu, Fitri dan Eko adalah dua kandidat yang selalu bersaing mendapatkan harga paling murah. Mungkin penjaga warteg terpesona dengan kelembutan Eko.
3. Panen buah. Di depan asrama kami, ada pohon yang entah apa namanya yang mempunyai buah yang kecil – kecil dan sangat manis. Ritual kami sebelum berangkat mengajar adalah memanen buah – buah itu (mungkin sebagai sarapan pagi. wkwkkk). Mungkin dua pohon itu sangat tersiksa karena kami selalu merontokkan buah – buahnya tiap pagi.
|
|
|
Adegan yang tidak perlu ditiru: Nopek dan mama Wine
sedang merampok asrama – memanen buah.
4. Belajar VS makan. Mungkin di mata kelompok lain, kami adalah kelompok yang sangat rajin. Tapi tahukah anda tentang kebusukan apa saja yang terjadi di dalamnya? Haha... setiap kami berkumpul, hal pertama yang kami bahas bukan tugas kelompok. Tapi makanan!. Ya, selalu saja ada di antara kami yang belum makan dan dilanda kelaparan. Yang hasilnya adalah, berkelompok selama 3 jam dipotong makan, dengerin curhatnya Nopek dan nungguin dia foto – foto narsis sampai lelah, dengerin berita terkini dari Fitri, ditambah lagi Eko dan Mama yang sibuk download lirik lagu dari manca sampai keroncong, yang akhirnya selalu berujung pada pemaksaan koor masal lagunya Raysa – Arti Menunggu. Kalau ritual – ritual itu udah terlaksana, barulah kami bisa mengerjakan tugas dengan tenang dan singkat. Kenapa singkat? Karena setengah jam kemudian satu – satu dari kami mulai menguap dan meletakkan kepala di meja alias molor. |
|
Mama wine& fitri menghabiskan 1 toples kerupuk..
|
5. Taxi murah. Ga tahu ya apakah sopirnya muak atau muntah. Tapi yang jelas kami naik 1 taxi untuk berlima dan jarak asrama ke sekolah juga dekat. Walhasil, kami bisa bayar taxi dengan harga murah.
Tapi sebenernya kami paling suka naik metro mini, karena
para pengamennya itu benar – benar memacu andrenalin, seperti Nopek yang pernah
dimarahin pengamen gara – gara ga ngasih uang. Hhaha..., itu kan keren.
Kami
juga suka sekali pergi berduyun – duyun seperti rombongan pengungsi hanya untuk
membeli satu barang saja bahkan kadang tidak membeli apapaun. Haha... salah
satunya, kami pernah ramai – ramai ke pasar Senen hanya untuk makan mie ayam
pinggir jalan dan minum air putih yang kami bawa sendiri dengan botol minum
kebanggaan kami masing - masing. Karena kesederhanaan inilah, kami layak
mendapat predikat Keluarga Cemara. Wkwkk.
|
Menunggu mie ayam murah meriah depan pasar Senen
|
Hari Sabtu pagi itu, kami sudah siap – siap dengan pakaian rapih.
Sebenernya setiap sabtu pagi kami memang mempunyai tugas melatih PBB di
sekolah, tapi kebetulan Sabtu itu ekskul libur. Namun begitu kami tetap ingin
keluar asrama pagi – pagi, selain karena ingin refreshing kami juga lagi males
ikut senam. Haha.... dan mutlak, pagi itu kami menipu penjaga asrama dengan
mengatakan mau mengajar ekskul PBB di sekolah. Itu karena kami tidak mau piknik
kami pagi itu gagal. Semalaman suntuk secara mengendap – ngendap dan suara
mendesah – desah, eh... maksudnya suara pelan, kami telah melakukan rapat
darurat membahas piknik itu. Dari daftar Menara Eifel Paris, Taj Mahal India,
Tembok Besar China dan tempat wisata lain di dunia, akhirnya malam itu
diputuskan bahwa besok paginya kami akan piknik ke suatu tempat yang fenomenal
yaitu Ragunan yang murah – meriah. Wkwkk....
Setelah berhasil
lolos keluar asrama, seperti biasa hal pertama yang kami cari adalah ‘makanan’
buat bekal piknik. Walaupun ini hari spesial karena kami mau berwisata, tapi
isi kantong tidak ikut spesial, jadinya kami menuju warteg Pink langganan kami.
Setelah menggunakan berbagai metode untuk mendapatkan makanan yang banyak dan
murah, kami siap berangkat......
Turun dari bus trans
Jakarta, kami menuju loket karcis. Dengan kekuatan penuh kami berlima
mendapatkan tempat yang strategis. Dan kahirnya, tibalah kami di pintu masuk
Ragunan. Ternyata tidak salah kami memilih tempat ini, selain banyak penjual
gorengan kesukaannya Nopek dengan harga super murah, Ragunan juga sangat sejuk.
Jarang di Jakarta ada tempat yang ga panas. He....
Ye.....,, kami masuk
layaknya pengunjung lain. Kayaknya ga ada yang tahu kalau sebenarnya kami
adalah wisatawan paling miskin. Haha... hal pertama yang kami lakukan adalah
foto – foto. Kami berfoto dengan berbagai pose yang tidak wajar menggunakan
I-pad baru miliknya Fitri. Asek!. Dan perutpun kruwes- kruwes, saatnya kami
buka bekal fantastis yang kami bawa yaitu nasi RAMES. Sebenernya dalam hati
heran juga, ini mau piknik apa pindah tempat makan doang. Ga di asrama ga
plesiran, menunya tetep sama. Haha....
Setelah mengisi perut
dengan kenyangnya, inilah kegiatan positif yang kami lakukan yaitu tanya jawab
soal – soal CPNS. Dan skor tertinggi kayaknya Wine dan Eko karena mereka paling
banyak jawab soal dengan benar. Kegiatan belajar itu kami lakukan dengan
nomaden, di deket Kudanil yang nyengir, di kandang kuda Zebra yang tiba – tiba
buang kotoran dan itu bikin kami pindah lagi, selonjoran di atas rumput, dan
tempat – tempat lain. Dan akhirnya kami sampai di depan pantat gajah, tak lupa
kami berpose dengan manisnya. Kemudian kami berlanjut ke hewan kijang. Di
sebelah kami ada keluarga kecil yang memberi makan kijang – kijang itu dengan
roti tawar. Tami kami hanya mampu memancing kijang – kijang itu dengan plastik
bekas agar mau mendekat dan diajak foto. Mungkin karena merasa tertipu, kijang –
kijang itu akhirnya kabur juga.
Setelah melewati
aneka macam Burung dan Simpanse, kami udah merasa puas walaupun sebenarnya
banyak hewan yang kandangnya ditutup, mungkin hewan – hewannya lagi sakit magh
gara - gara makan plastik bekas :D.
|
Sedikit memalukan dan malu – malu. Tapi memang makan
rames itu mengasyikan.
|

Puasnya...,, piknik
murah meriah dan menyenangkan. Ternyata kedekatan hubungan kami dengan warteg
Pink sudah sanyat mendarah daging hingga pulang dari Ragunanpun, kami masih
sempat mampir lagi untuk beli makan siang. Wow! Dan pelayan warteg itu ga
percaya kalau kami habis berTAMASYA. Haha... gimana orang mau percaya. Aku
sendiri aja ga percaya dengan yang terjadi. Piknik kok bawa bekal rames. :D
Akhirnya sekarang usai sudah tugas kami
mengajar satu semester di SMPN 47 Jakarta. Banyak suka, banyak duka dan banyak
makan. :D
Terimakasih telah menjadi keluarga
Einstein.














No comments:
Post a Comment