Friday, 26 July 2013

Catatan3: Pepi Dalam Kenangan



Selain aku dan Oma, sebenarnya ada lagi satu sahabat yang sangat setia, namanya Pepi. Nah, kemanapun kami pergi, Pepi selalu kami ajak. Jangankan jalan – jalan ke monas, joggingpun kami ajak. Yah walaupun kami terlantarkan dipinggir lapangan selama kami jogging.

Selain kami anggap sebagai teman, Pepi kadang kami anggap sebagai anak kami (wkwkkkk. Heboh!). si Pepi memang berwarna grey dan sudah sedikit kusam. Tapi kami sangat menyayanginya layaknya pahlawan, kenapa? Karena dia selalu meredakan dahaga kami.. iya, si Pepi, botol minum yang sangat setia.

Tapi suatu pagi buta, aku mendapatkan berita duka. Kejadiannya adalah sebagai berikut, hmm..… Pagi itu seperti biasa Pepi menemani Oma jogging (aku gak ikutan, ngantuk. He…), katanya tiba – tiba kecelakaan terjadi. Pepi jatuh dan pecah. Aku mungkin orang pertama yang dihubungi oleh Oma via SMS tentang berita kematian Pepi. Kami berduka (lebay gak sih?). Sebagai bukti penghormatan terakhirku pada Pepi, jadilah aku heboh memberi tahu orang – orang disekitarku tentang berita kematian Pepi. Orang yang pertama aku kasih tahu adalah teman sekamarku, Anang. “Pepi siapa mas Munji?, pepi yang mana?”, dia kaget bukan kepalang. Trus aku jawab dengan santai, “itu lho, botol minum punya neni”. Ternyata responnya di luar dugaan, dia menjawab dengan penuh khidmat dan keihklasan “Huh! SIALAN….!!!, kirain Pepi siapa!”.

Ya begitulah, Ada yang kaget, ada yang heran dan ada yang merasa ketipu karena ternyata si Pepi hanya sebuah botol air minum. Tapi apapun responnya yang penting aku sudah menyampaikan berita lelayu itu dengan baik dan penuh kasih.

Tapi sialnya adalah si Oma ternyata biasa saja, belum sempat aku menanyakan perasaaannya ditinggal Pepi, kurang dari 1x24 jam dari kematian Pepi, dia datang dengan tertawa – tawa heboh menunjukkan pengganti Pepi. Sambil teriak – teriak dengan nada tidak beraturan, dia bilang “Hyung…….., coba lihat siapa yang aku bawa. Ini aku bawa pengganti Pepi. Ini mahal lho Hyung, 49.000. kita kasih nama siapa ya Hyung…?”
Dengan kesalnya aku jawab “Panggil aja Pispot!!”
“Oke deh, Pispot juga bagus”, katanya.
“Hah???@#$$#**~~”
Dasar Oma.

Ini dia si Pispot pengganti Pepi, lagi di pegang Oma. Sebenarnya si Pepi hampir mirip sih sama Pispot. Kalo Pepi warnanya grey kalau Pispot warnanya bening putih campur pink dikit.
 
Namun satu hal yang bikin orang illfeel dengernya kalau aku lagi nanyain Pispot. “Oma, Pispotnya dong, haus nih”.
Mungkin mereka mikir, “gila nih orang, minumnya urine, kemana- mana bawa Pispot”. Ha……

No comments:

Post a Comment