Meskipun Oma
sudah hampir tidak berpinggang, namun keinginannya agar terlihat seperti
Kristen Stewart membuat dia terobsesi untuk terus menjadi lebih ramping setipis
triplek. Dan sore itu, agenda jogging tetap menjadi agenda wajib yang harus dia
kerjakan. Seperti biasa, aku mengikuti program sehat tersebut dan hanya mampu
bertahan mengelilingi stadion sebanyak dua kali. Selebihnya, push up dan main
skipping. Tapi bagaimana dengan Oma? Huh….., waow… amazing! Dia mampu berlari mengelilingi
stadion sebanyak Empat kali…………, padahal ini kan bulan Puasa. Itu belum
termasuk gerakan – gerakan ekstrim lainnya yang dia lakukan. Kadang aku
berfikir; mungkin benar yang sering dia ucapkan kalau dia sebenarnya adalah
seorang laki – laki yang terjebak dalam tubuh seorang wanita. Hmmm….., tapi
melihat ketahanan fisiknya, jangan – jangan dia adalah turunan atlet Judo. He…
Di tengah –
tengah kami melakukan latihan fisik itu, duo sahabat yang selalu bertengkar;
Aji dan Irkham ‘Bebo’ menyusul kami. Tapi sayangnya mereka gak lari, hanya
berjalan dengan langkah gontai mengelilingi stadion sebanyak satu setengah kali
putaran. Alasannya adalah karena mereka takut mati lemas karena mereka sedang puasa. Ha……
Latihan fisik
yang kami lakukan berikutnya adalah olah raga mulut alias NGOBROL dekat
lapangan tenis. Malah Si Aji sambil tiduran di aspal, mungkin saking lemesnya
menunggu jam buka puasa. Saat kami ngobrol itulah, Bebo bertanya, “Oma… kalian gak
ikut buka puasa bersama? Kelas bahasa Inggris kan ngadain buka puasa bersama…”.
Oma jawab, “Gak akh, males….”. Trus aku
ikut nambahain, “Iya, lagian juga di asrama udah ada jatah makan. Ngapain….. ,
ntar malah mubazir..”. dengan secepat kilat Bebo membalas perkataanku dengan
sinisnya sepedas cabe rawit, “kamu kan sukanya yang gratis!!!”.
Tiba – tiba si
Oma sang pengagum uang, makanan dan diskon, dengan cepatnya melihat mobil Box
bertuliskan “BAGI – BAGI TAKJIL GRATIS”. Oma berkata, “Ya ampun Hyung.., itukan
bagi – bagi mkanan gratis. Apalagi pake tas, pasti isinya enak – enak”.
Kemudian Bebo menyahut sambil setengah berlari, “Iya, ayo – ayo! Kita harus
mendapatkannya sesegera mungkin!”.
Dengan lugas Si Vino ‘Aji’ Bastian berkata,
“Katanya tadi, si Munji yang suka gratisan trus kenapa sekarang kamu yang
paling depan liat yang gratisan…?”. Hu…….
Seperti biasa,
Oma adalah orang yang paling tidak malu dan jauh dari kata “gengsi” dengan
berpura – pura bermain tali skipping yang dia rebut dariku, pelan tapi pasti
dia menanyakan dengan tanpa rasa malu pada panitia itu, “Takjilnya dibagi jam
berapa ya…??”.
”Nanti ya mba, jam setengah enam, mba terusin aja olah raganya
dulu”, jawabnya.
Mendengar jawaban itu, kami berpura – pura melanjutkan gerak –
gerak tubuh yang gak jelas.
Teng!!!,
akhirnya jam setengah enam juga, dengan berlarian kami menuju ke mobil box.
“Maaf, kalian harus muter, kami gak berani ngasih lewat pagar. Kan dishoot soalnya”. Tanpa pikir panjang kami
berempat berhamburan berlarian muter ke pintu pagar keluar jalan raya. Kami
berlari saling mendahului, seperti ada tenaga ekstra, tidak ketinggalan Aji dan
Bebo yang berlari sangat kencang padahal mereka terlihat sangat lemas
sebelumnya. Itu bukan karena makanan takjil itu terlihat seperti mobil baru
ataupun uang satu gepok, tapi panitia seperti kalap membagi - bagikan takjil itu ke setiap pengendara
yang lewat. Bahkan ke semua penumpang di bis. Bagaimana kalau habis??? Kami kan
sudah menunggunya dari 20 menit sebelum acara pembagian itu. Wkwkkkk..

No comments:
Post a Comment