Saturday, 10 August 2013

Catatan6: Takjil Gratis


Meskipun Oma sudah hampir tidak berpinggang, namun keinginannya agar terlihat seperti Kristen Stewart membuat dia terobsesi untuk terus menjadi lebih ramping setipis triplek. Dan sore itu, agenda jogging tetap menjadi agenda wajib yang harus dia kerjakan. Seperti biasa, aku mengikuti program sehat tersebut dan hanya mampu bertahan mengelilingi stadion sebanyak dua kali. Selebihnya, push up dan main skipping. Tapi bagaimana dengan Oma? Huh….., waow…  amazing! Dia mampu berlari mengelilingi stadion sebanyak Empat kali…………, padahal ini kan bulan Puasa. Itu belum termasuk gerakan – gerakan ekstrim lainnya yang dia lakukan. Kadang aku berfikir; mungkin benar yang sering dia ucapkan kalau dia sebenarnya adalah seorang laki – laki yang terjebak dalam tubuh seorang wanita. Hmmm….., tapi melihat ketahanan fisiknya, jangan – jangan dia adalah turunan atlet Judo. He…

Di tengah – tengah kami melakukan latihan fisik itu, duo sahabat yang selalu bertengkar; Aji dan Irkham ‘Bebo’ menyusul kami. Tapi sayangnya mereka gak lari, hanya berjalan dengan langkah gontai mengelilingi stadion sebanyak satu setengah kali putaran. Alasannya adalah karena mereka takut mati lemas karena mereka  sedang puasa. Ha……

Latihan fisik yang kami lakukan berikutnya adalah olah raga mulut alias NGOBROL dekat lapangan tenis. Malah Si Aji sambil tiduran di aspal, mungkin saking lemesnya menunggu jam buka puasa. Saat kami ngobrol itulah, Bebo bertanya, “Oma… kalian gak ikut buka puasa bersama? Kelas bahasa Inggris kan ngadain buka puasa bersama…”. Oma jawab, “Gak akh, males….”.  Trus aku ikut nambahain, “Iya, lagian juga di asrama udah ada jatah makan. Ngapain….. , ntar malah mubazir..”. dengan secepat kilat Bebo membalas perkataanku dengan sinisnya sepedas cabe rawit, “kamu kan sukanya yang gratis!!!”.
Tiba – tiba si Oma sang pengagum uang, makanan dan diskon, dengan cepatnya melihat mobil Box bertuliskan “BAGI – BAGI TAKJIL GRATIS”. Oma berkata, “Ya ampun Hyung.., itukan bagi – bagi mkanan gratis. Apalagi pake tas, pasti isinya enak – enak”.
Kemudian Bebo menyahut sambil setengah berlari, “Iya, ayo – ayo! Kita harus mendapatkannya sesegera mungkin!”.
Dengan lugas Si Vino ‘Aji’ Bastian berkata, “Katanya tadi, si Munji yang suka gratisan trus kenapa sekarang kamu yang paling depan liat yang gratisan…?”. Hu…….

Seperti biasa, Oma adalah orang yang paling tidak malu dan jauh dari kata “gengsi” dengan berpura – pura bermain tali skipping yang dia rebut dariku, pelan tapi pasti dia menanyakan dengan tanpa rasa malu pada panitia itu, “Takjilnya dibagi jam berapa ya…??”.
”Nanti ya mba, jam setengah enam, mba terusin aja olah raganya dulu”, jawabnya.
Mendengar jawaban itu, kami berpura – pura melanjutkan gerak – gerak tubuh yang gak jelas.

Teng!!!, akhirnya jam setengah enam juga, dengan berlarian kami menuju ke mobil box. “Maaf, kalian harus muter, kami gak berani ngasih lewat pagar. Kan dishoot soalnya”. Tanpa pikir panjang kami berempat berhamburan berlarian muter ke pintu pagar keluar jalan raya. Kami berlari saling mendahului, seperti ada tenaga ekstra, tidak ketinggalan Aji dan Bebo yang berlari sangat kencang padahal mereka terlihat sangat lemas sebelumnya. Itu bukan karena makanan takjil itu terlihat seperti mobil baru ataupun uang satu gepok, tapi panitia seperti kalap membagi  - bagikan takjil itu ke setiap pengendara yang lewat. Bahkan ke semua penumpang di bis. Bagaimana kalau habis??? Kami kan sudah menunggunya dari 20 menit sebelum acara pembagian itu. Wkwkkkk..

Alhasil kami berempat dapat juga takjil gratis sore itu. Isinya ada the botol, roti sandwich, kurma, resoles dan arem – isi daging ayam. Hmm… enak, makasih JAMS*STEK telah berbagi takjil.

No comments:

Post a Comment