9/7/13
Hari ini adalah
hari pertama aku puasa. Kalau Oma belum, dia besoknya. Niatnya hari ini aku mau
maketin sandal buat bapakku. Sandal super diskon yang aku beli sama Eko
kemarin, di pasar Baroe – Jakarta. Setelah semua beres, Oma siap nemenin ke kantor
pos. Pukul 9.30 a.m., cuaca gak terlalu panas. Setelah jalan bermeter – meter,
akhirnya sampai juga. Setelah dikenai charge
tambahan karena petugasnya bungkusin paketannya, giliran aku nemenin Oma
beli makan. Karena aku puasa, aku nunggu di luar. Kemudian kami pulang dengan
membawa bungkusan makanan yang aku gak tahu apa isinya, mungkin semur jengkol.
Sampai di
asrama, aku nonton acara kuliner sama Oma dan Takhis. Oma pamit makan ke atas,
jadilah aku nonton acara yang isinya menu makanan yang super lezat (ha….,
padahal lagi puasa).
Dari situ aku
mulai sadar, ternyata Takhis punya bakat menjadi juri master chef. Terdengar dari komentar – komentarnya yang bikin aku
ngiler…
Dan lagi ngiler
– ngilernya liat makanan yang super enak, tiba – tiba Oma datang dengan tingkat
kehebohan melebihi orang yang mau melahirkan. “Hyung…, sini pinjem tasnya aku
harus ke dokter gigi sekarang”.
“Kenapa
Oma...?”, tanyaku.
Oma jawab sambil
setengah mingkem “Ampun…., laknat
banget gak sih? Ini gigi oma… behelnya mau copot, dah patah sebelah kanan..”.
“Wkkwkkk. Emang
oma makan apa?”, tanyaku kompak sama Takhis.
“ Gara – gara
makan cumi yang dibeli di warteg tadi”, jawabnya.
Ha….., ampun
dah! Oma terlihat lari terbirit – birit menuju klinik dokter gigi langganannya.
Siang itu aku
dapat pelajaran berharga “sayangi behelmu, cumi – cumi siap mengancam”. Ha….
=========
Setelah urusan
gigi selesai, sore harinya Oma nemenin aku beli makan buka puasa. Namun kali
ini Oma lagi beruntung. Pas melewati warung trotoar di jalan dekat taksi berjejer,
si Oma yang notabene sangat mengagumi uang dengan segenap jiwa raganya, matanya
secepat kilat menangkap uang sepuluh ribu yang ada di jalan itu. Dengan sigap
Oma mengambilnya, tapi anehnya dia takut. Ha…… jadilah aku yang ngantongin.
Sebelum sampai warteg
ternyata ada penjual jus dengan buah – buah yang terlihat sangat segar dan
menggoda selera. “Hyung, bagaimana kalau uangnya kita belikan jus aja?”
“Ayo, aku jus
mangga deh” jawabku.
“Dosa gak sih?”,
tanyanya lagi.
“Gak tahu Oma,
mungkin gak. Tapi jusnya enak, gimana….?”. Ha... Jadilah akhirnya kami membeli
jus tanpa es. Aku ganti jus Alpukat dan Oma jus mangga.
Kemudian masalah
muncul, sepulang dari warteg kami agak – agak takut melewati warung dan taksi
lagi. Takut ditanyain uang sepuluh ribu itu. Tapi kan udah kami belikan jus,
jadilah pulangnya kami agak jalan miring – miring agak ke tengah jalan raya. Untung
ga ketabrak. Ha… Ngerasa salah, padahal bisa jadi itu uang pejalan kaki lain yang
jatuh yang kebetulan lewat situ.
Tapi makasih Oma
untuk jus Alpukatnya, walau dari sumber uang yang gak jelas! Ha…..
No comments:
Post a Comment