Saturday, 10 August 2013

Catatan4: Behel VS Cumi


9/7/13
Hari ini adalah hari pertama aku puasa. Kalau Oma belum, dia besoknya. Niatnya hari ini aku mau maketin sandal buat bapakku. Sandal super diskon yang aku beli sama Eko kemarin, di pasar Baroe – Jakarta. Setelah semua beres, Oma siap nemenin ke kantor pos. Pukul 9.30 a.m., cuaca gak terlalu panas. Setelah jalan bermeter – meter, akhirnya sampai juga. Setelah dikenai charge tambahan karena petugasnya bungkusin paketannya, giliran aku nemenin Oma beli makan. Karena aku puasa, aku nunggu di luar. Kemudian kami pulang dengan membawa bungkusan makanan yang aku gak tahu apa isinya, mungkin semur jengkol.

Sampai di asrama, aku nonton acara kuliner sama Oma dan Takhis. Oma pamit makan ke atas, jadilah aku nonton acara yang isinya menu makanan yang super lezat (ha…., padahal lagi puasa).
Dari situ aku mulai sadar, ternyata Takhis punya bakat menjadi juri master chef. Terdengar dari komentar – komentarnya yang bikin aku ngiler…

Dan lagi ngiler – ngilernya liat makanan yang super enak, tiba – tiba Oma datang dengan tingkat kehebohan melebihi orang yang mau melahirkan. “Hyung…, sini pinjem tasnya aku harus ke dokter gigi sekarang”.
“Kenapa Oma...?”, tanyaku.
Oma jawab sambil setengah mingkem “Ampun…., laknat banget gak sih? Ini gigi oma… behelnya mau copot, dah patah sebelah kanan..”.
“Wkkwkkk. Emang oma makan apa?”, tanyaku kompak sama Takhis.
“ Gara – gara makan cumi yang dibeli di warteg tadi”, jawabnya.
Ha….., ampun dah! Oma terlihat lari terbirit – birit menuju klinik dokter gigi langganannya.
Siang itu aku dapat pelajaran berharga “sayangi behelmu, cumi – cumi siap mengancam”. Ha….
=========
Setelah urusan gigi selesai, sore harinya Oma nemenin aku beli makan buka puasa. Namun kali ini Oma lagi beruntung. Pas melewati warung trotoar di jalan dekat taksi berjejer, si Oma yang notabene sangat mengagumi uang dengan segenap jiwa raganya, matanya secepat kilat menangkap uang sepuluh ribu yang ada di jalan itu. Dengan sigap Oma mengambilnya, tapi anehnya dia takut. Ha…… jadilah aku yang ngantongin.

Sebelum sampai warteg ternyata ada penjual jus dengan buah – buah yang terlihat sangat segar dan menggoda selera. “Hyung, bagaimana kalau uangnya kita belikan jus aja?”
“Ayo, aku jus mangga deh” jawabku.
“Dosa gak sih?”, tanyanya lagi.
“Gak tahu Oma, mungkin gak. Tapi jusnya enak, gimana….?”. Ha... Jadilah akhirnya kami membeli jus tanpa es. Aku ganti jus Alpukat dan Oma jus mangga.

Kemudian masalah muncul, sepulang dari warteg kami agak – agak takut melewati warung dan taksi lagi. Takut ditanyain uang sepuluh ribu itu. Tapi kan udah kami belikan jus, jadilah pulangnya kami agak jalan miring – miring agak ke tengah jalan raya. Untung ga ketabrak. Ha… Ngerasa salah, padahal bisa jadi itu uang pejalan kaki lain yang jatuh yang kebetulan lewat situ.

Tapi makasih Oma untuk jus Alpukatnya, walau dari sumber uang yang gak jelas! Ha…..

No comments:

Post a Comment